Yuni Fanani tak menyangka, pertemuannya dengan sang suami kemarin ternyata adalah untuk yang terakhir kalinya. Padahal, sebelum pingsan hingga akhirnya meninggal dunia, suami tercintanya sempat minta dikeroki lantaran merasa kurang enak badan.
Kelelahan dan serasa masuk angin, itu lah keluhan terakhir Sunarko, suami Yuni, di tengah menjalankan tugas menjadi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 02 Dusun Wersah, Kelurahan Kepanjen, Jombang, Jawa Timur.
"Biasanya kalau sudah begitu, beliaunya hanya minta dikeroki badannya dan kemudian minta minum teh hangat. Terus beliau berangkat beraktifitas lagi," ujarnya, Rabu (1/5).
Sebagai Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya, sang suami diakuinya sebagai sosok yang cukup bersemangat dalam hal apapun, terutama soal sosial bersama warga. Ia pun dikenal oleh warga sebagai orang yang rajin dan tidak suka menunda pekerjaannya.
Yuni pun bercerita, sebelum sang suami masuk rumah sakit, ia sempat pingsan di rumah. Takut terjadi sesuatu, Yuni membawa sang suami ke rumah sakit.
"Mungkin kecapekan, karena terakhir kemarin hasil diagnosanya darah tinggi sampai pembuluh darahnya pecah," tuturnya.
Alhasil, setelah sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit, nyawa Sunarko tak tertolong. Ia pun meninggal dunia di rumah sakit pada Senin (28/4) malam.
Dalam kondisi seperti ini, Sunarko terpaksa meninggalkan istri dan dua buah hatinya tercinta. Yang membikin Yuni semakin sedih, sang suami sebenarnya tengah menunggu kelahiran anaknya yang ketiga.
Yuni mengakui jika kini ia tengah hamil dengan umur kandungan 8 bulan. Sedangkan anak pertamanya bernama Dzaki Farel masih berumur 8 tahun dan baru duduk dibangku kelas III Sekolah Dasar.
"Anak kedua bernama Nada Nadi. Dia masih berumur 4,5 tahun dan sebentar lagi akan masuk Taman Kanak-Kanak (TK)," urainya dengan raut muka yang menahan kesedihan
Kini, Yuni pun mengaku hanya bisa pasrah dengan masa depan anak-anaknya. Satu-satunya tulang punggung keluarga telah meninggalkannya dan keluarga. "Tuhan sudah berkehendak lain," tegasnya.
Tidak hanya di Jombang, 10 keluarga dari 10 orang petugas yang usai menunaikan tugas di TPS di sejumlah tempat di Surabaya, saat ini juga tengah dirundung duka. Sebab, ke-sepuluh petugas tersebut meninggal dunia diduga akibat kelelahan usai menjaga TPS.
Komisioner KPU Surabaya Wahyu Kuncoro mengakui, terhitung hingga Selasa (30/4) kemarin, tercatat ada 10 orang petugas KPPS dan Linmas yang meninggal dunia di Surabaya.
"Tentunya kami ikut berbela sungkawa. Kami juga masih mencari apa yang menyebabkan kondisi seperti ini (KPPS yang sakit)," terangnya, Selasa (30/4).