Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahu Falahil Mubtadiin Kasembon, Kabupaten Malang tetap melanjutkan program-programnya, termasuk program triwulanan Ramadan Waspada Meteor. Selain santri reguler pondok, ratusan lainnya sudah mulai mengikuti kegiatan, kendati sempat terganggu pemberitaan dan fitnah yang menyudutkan mengenai isu kiamat.
Pimpinan pondok, KH Agus Muhammad Romli Sholeh (Gus Romli) mengatakan, kegiatannya sepenuhnya untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Jemaah thoriqohnya Akmaliyah Ash Sholihiyah, beberapa kemungkinan membatalkan, tetapi tetap saja jumlahnya meningkat dari sebelum-sebelumnya.
"Tetap jalan. Kemungkinan yang paling buruk pun, saya terus, ibadah itu terus. Andaikan ditangkap polisi karena ibadah ini, ya silakan, wong saya tidak merasa tidak bersalah. Kalau saya ditangkap karena fitnah silakan, jemaah terus ibadah," katanya.
"Ini urusannya ibadah, urasannya ngaji, dzikir dan waspada Ad-Dhuqon (meteor), bukan kiamat. Ibadah itu dalam keadaan apapun harus terus. Meski berkalang tanah kan harus ibadah," sambungnya dengan senyuman.
Gus Romli menyesalkan isu dan fitnah terhadapnya dan pondok yang sudah ke mana-mana, bahkan ditambah-tambahi fitnah kalau bagian dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang akan memberontak. Beberapa santri yang biasanya rutin ikut kegiatan tiga bulanan, beberapa sementara memilih istirahat karena tidak nyaman dan khawatir masyarakat salah paham.
"Banyak yang mau datang akhirnya takut. Yang di sini juga tidak mau keluar," katanya.
Beberapa santri, kata Gus Ramli, diambil oleh orang tuanya gara-gara informasi salah. Bahkan beberapa orang santri juga sudah tidak mendapatkan kiriman dari keluarganya, karena menganggap pondoknya sudah sesat. Akibat itu semua, kebutuhan mereka yang tidak mendapatkan kiriman mau tidak mau menjadi tanggung jawab pihak pondok.
"Beberapa santri diambil orang tuanya, beberapa yang tidak dikirimi orang tuanya. Yang diambil tidak mau sampai dipukuli dan dijambak-jambak mau dibenturkan tembok. Karena orang tuanya sudah berpikir kiainya sesat," jelasnya.
Jumlah yang diambil orang tuanya, sekitar 10-15 orang santri. Sementara pihak pondok mempersilakan sepenuhnya kepada santri untuk memilih antara melanjutkan atau pulang. Tetapi kebanyakan memilih melanjutkan mondoknya.
"Karena tidak mau pulang, kiainya yang nomboki. Karena orang tuanya tidak ngirimi, juga tidak menyediakan gabahnya. Sekitar 200-300 santri yang makannya sama saya. Saya tanggung bersama adik-adik saya," katanya.
Gus Romli menegaskan bahwa pondoknya masih menjaga tradisi sebagai pondok salafiyah. Pesan abahnya, KH Sholeh Saifuddin masih terus dijaga hingga sekarang.
"Tidak ada plakat, lillahitaallah semua. Tidak boleh diberi sekolah umum. Kalau mondok di sini ya mondok saja, tapi harus tamat SD dulu, khusus agama dan ibadah. Kita jadi benteng terakhir," katanya.
Pondok juga tidak boleh menerima dana pemerintah, karena pertimbangan bahwa pondok adalah anak, dan pemerintah sebagai bapak. Sehingga anak yang baik, tidak merepotkan orang tua.
"Sebaik-baiknya anak yang tidak ngerepoti bapak. Kata abah, kalau pejabat karuan menjadi pegawai (bekerja) menerima rezekiya, tetapi kalau kamu (pondok) menerima uang pemerintah atas nama apa," katanya menirukan abahnya.
Justru sebaliknya, pondoknya lewat pendidikan yang murah akan meringankan dan membantu pemerintah dalam mencerdaskan bangsa. Karena itu, pondok juga memberikan pendidikan yang murah dan agar tidak membebani para santri. Pondok hanya menarik syahriyah atau SPP sebesar Rp 15 ribu per bulan.
Pondok juga selalu siap bekerjasama dan membantu pemerintah. Jika dibutuhkan tentu akan sangat senang membantu.
"Kalau mau dananya tidak, abah saya wasiatnya begitu. Karena itu semua bangunan swadaya. Ada yang bantu silakan, tidak ya dibangun sendiri," tegasnya.
Salah satu santri, Muhammad Khoirul Nugroho (25) mengaku sudah nyantri selama 8 tahun. Sejak lulus SMA di Kota Bumi, Lampung Utara langsung menuntut ilmu di pondok Gus Romli. Khoirul baru akan pulang jika Gus Romli memintanya pulang.
"Nggak mesti sampai berapa tahun (pulangnya), kalau disuruh pulang kiai ya pulang," kata Khoirul.
Khoirul mengaku tidak banyak terganggu dengan fitnah yang menimpa pondok dan kiainya. Karena memang sudah memahami duduk persoalan yang dipermasalahkan.
"Terganggu sedikit, tapi sudah paham, kan setiap hari ngaji di sini ya masalah itu. Jadi tidak kaget, dengan isu yang beredar. Tidak mengganggu," katanya.
Khoirul juga membenarkan, kalau beberapa santri diminta dijemput atau diminta pulang oleh keluarganya. Tetapi pihak pondok memberikan kebebasan untuk memilih.
"Santri dikasih pilihan mau tetap mondok atau pulang diserahkan kepada santrinya sendiri. Pengurus tidak memaksa," katanya.
Khoirul sendiri mengaku jarang mendapat kunjungan keluarganya dari Lampung. Santri biasanya mendapatkan kunjungan saat baiat yang dilaksanakan 15 Sya'ban dan 1 Muharam.
"Keluarga biasanya ke sini dan ikut baiat," katanya.
Sementara kegiatan keseharian yang dijalani Khoirul di antaranya ngaji Alquran yang dilaksanakan usai salat Subuh. Selain itu juga mengikuti pengajian kitab sesuai dengan jadwal.
"Kalau yang Tsanawi ngajinya di aula. Aliyah dan Perguruan di serambi. Setelah itu kursus dan sorokan kitab kuning. Setelah itu istirahat, makan dan bersiap jamaah salat Dzuhur. Setelah dhuhur musyawaroh dengan tiap-tiap santri," katanya.