KH Agus Muhammad Romli Sholeh (Gus Romli) pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahu Falahil Mubtadiin Sukosari, Kasembon, Kabupaten Malang, memberikan penjelasan terkait 10 tanda besar kiamat.
Gus Romli yang juga pemimpin tarekat Akmaliyah Ash Sholihiyah meminta salah seorang santrinya, mengambil whiteboard dan alat tulis agar mempermudah memberi penjelasan.
Penjelasan itu disampaikan agar masyarakat tidak salah tanggap dan mengetahui latar belakang program triwulan waspada meteor di pondoknya. Program meteor yang ramai menjadi pembicaraan karena isu kiamat itu digelar tahunan, sepanjang Rajab, Sya'ban dan Ramadan.
Gus Romli mengatakan, program itu mewaspadai Ad-Dhuqon atau meteor. Bukan waspada terhadap kiamat seperti yang selama ini ramai diperbicangkan. Karena Ad-Dhuqon terjadinya jauh sebelum kiamat dan memang awal dari 10 tanda kiamat itu adalah Ad-Dhuqon.
"Bukan kiamat ya, Ad-Dhuqon (meteor)," tegasnya.
Ke-10 tanda besar kiamat tersebut disampaikan Gus Romli meliputi meteor atau Ad-Dhuhon yang diikuti tiga tahun kemarau, munculnya Dajjal, munculnya Nabi Isa, munculnya golongan Yakjuj-Makjuj, matahari terbit dari barat, muncul hewan Shofa berupa binatang melata, matinya para mukminin, tenggelam bumi bagian barat, tenggelam bumi bagian timur dan api menggiring orang kafir.
Para ulama meneliti, Dhuqon menjadi awal dari 10 tanda kiamat berupa hantaman meteor ke bumi yang terjadi di bulan Ramadan. Setiap Muslim diwajibkan waspada jika tanda-tandanya sudah dirasa dekat.
"Di mana Ad-Dhuqon itu jika terjadi di bulan Ramadan, maka dampaknya gelap gulita selama 40 hari 40 malam. Yang menutupi seluruh bumi, sehingga matahari dan bulan tidak bisa menembus. Kata Rasulullah, tangan tidak terlihat putihnya," tegas Gus Romli.
Otomatis saat itu, listrik dan eletronik serta teknologi tak berguna. Segala fasilitas yang sekarang dinikmati manusia akan lenyap. Manusia akan kembali seperti masa dulu dengan lenyapnya semua sistem.
"Itu yang kita waspadai. Yang kata Rasulullah, jika kamu sudah mengetahui Ramadan bencana itu, maka kamu dianjurkan untuk menyediakan makanan minimal untuk satu tahun. Karena setelah itu kemarau 3 tahun, itu ada hadisnya," tegasnya.
Hadis tersebut menyatakan, tahun pertama Allah akan menahan 1/3 hujan, 1/3 tanaman, tahun kedua menahan 2/3 hujan, 2/3 tanaman, dan tahun 3 seratus persen hujan tidak menetes dan 100 persen tanaman tidak tumbuh.
"Makanya kamu kalau sudah tahu bahwa Ramadan ini kayaknya mau meteor, kamu disuruh menyediakan atau menyimpan makanan 1 tahun. Harapannya dari 1 tahun pertama, masih makan nasi sambil memperbanyak zikir, tahun kedua dan ketiga kamu sudah cukup zikir. Kata Rasulullah, nanti makanan orang mukmin adalah zikir," jelasnya.
Gus Romli sendiri sama sekali tidak memastikan kalau Ramadan tahun ini akan terjadi meteor. Tetapi hanya bersiap-siaga kalau terjadi meteor sebagaimana dalam keterangan hadis tersebut.
"Wong saya saja sudah tiga tahun (menyiapkan), tahun pertama tidak terjadi, tahun kedua juga tidak terjadi. Tahun ketiga terjadi enggak? Wallahu A'lam. Saya ini hanya sekadar sedia payung sebelum hujan. Kalau terjadi meteor, kita sudah punya makanan, persiapan, kalau tidak terjadi ya pulang sendiri-sendiri bawa makanannya. Gitu saja," jelasnya.
Itu yang kemudian ditulis sebagai fatwa kiamat dan menimbulkan fitnah. Gus Romli menegaskan, bahwa dia tidak pernah memberikan fatwa terjadinya kiamat. Karena kiamat adalah sesuatu yang rahasia dan tidak diketahui manusia dan siapapun.
Yang diajarkan selama itu adalah prinsip-prinsip pondok, sebagaimana ahlul sunah wal jamaah. Salah satu rukun iman yang wajib diimani adalah iman kepada hari kiamat. Wajib diketahui tanda-tanda kiamat.
"Kalau saya dikabarkan memberi fatwa kiamat, itu hoaks. Kentara fitnahnya, kiai bodoh yang memberi fatwa kiamat itu," tegasnya.
Selama tiga bulan itu, para jemaah akan menjalankan ibadah salat berjemaah dan memperbanyak zikir. Intinya lebih mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan sementara urusan duniawi.
"Membuang dunia dari hati. Selama 3 bulan ini jangan memikirkan yang di rumah. Ya sudah di sini, ya di sini, fokus ibadah ngaji. Kalau nanti Ramadan kok tidak ada apa-apa pulang, kerja lagi," terangnya.
Kata Gus Romli, tarekat Akmaliyah Ash Sholihiyah ngaji tentang kiamat di pondoknya sudah sejak masa orang tuanya, KH Sholeh Saifuddin. Tetapi program tiga bulanan itu baru dilakukan tiga tahun berturut-turut. Karena saat itu dirasa masih jauh dan sekarang sudah semakin dekat.
"Buktinya apa? Tiberias, danau Tobaria atau Tiberias itu adalah tanda kiamat. Kata Rasulullah, kalau Tiberias itu menyusut, maka tinggal sedikit lagi Dajjal akan keluar. Kalau Dajjal keluar, sebelum Dajjal ini keluar ada tiga tahun kemarau. Start-nya adalah Ad-Dhuqon atau meteor," jelasnya.
Hadis disebutkan oleh Gus Romli dalam riwayat yang shahih, di mana tanda-tanda kemunculan Dajal tinggal satu yang belum terjadi yakni mengeringkanya Danau Tiberia di Israel. Sementara dua tanda yang lain, yakni mengeringnya sumur Zughor dan kurma lenyap dari Baisan sudah terjadi.
Gus Romli menggunakan Ramalan BMKG dunia yang menyebutkan Tiberia akan mengering pada 2022-2023. Analogi matematikanya, jika benar danau Tiberia mengering pada 2023, maka 3 tahun sebelumnya akan kemarau yang diawali dengan meteor pada 2019.
"Walaupun ini bisa mundur, tetapi tidak bisa maju. Allah bisa saja menghendaki diberi hujan di Tiberias, sehingga airnya banyak lagi, meteornya mundur. Sehingga meteornya menjadi 2020, meteornya menjadi 2021. Kan terserah Allah," katanya.
"Kalau maju tidak bisa. Kan tidak mungkin karena kalau Dajjal-nya 21 keluar, tiga tahun sebelum itu kan 2018, sudah terlalui. Ibarat jalan, saya hanya menyaksikan fenomena, 'Itu mendung, belum tentu hujan, maka sedia payung' Begitu saja," jelasnya menegaskan.
Karena itu, jemaah yang akan mengikuti Ramadan-an atau program triwulan, diwajibkan membawa perbekalan untuk satu tahun. Akhirnya terhitung, setiap kepala menyetorkan sebanyak 5 kwintal gabah (padi).
"Fitnahnya, mereka menjual aset untuk kiainya. Padahal itu untuk mereka sendiri, bukan untuk saya. Kalau tidak ada meteor yang sudah dibawa," katanya.
Kendati beberapa jemaahnya beberapa diminta pulang oleh keluarganya, tetapi tahun ini memang lebih banyak dari sebelumnya. Sekitar 10-15 orang diminta pulang keluarga, dan pondok mempersilakan sepenuhnya kepada yang bersangkutan untuk menentukan pilihan.