Penjelasan Langsung Warga Ponorogo soal Isu Kiamat

Namun dari beberapa warga Ponorogo mengaku mondok di Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin hanya untuk belajar ilmu agama, bukan karena termakan isu kiamat.

Syifa Hanifah
Oleh Syifa Hanifah - Reporter
Penjelasan Langsung Warga Ponorogo soal Isu Kiamat
Ilustrasi kiamat. 3dicandy.com

Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin, Desa Pulosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang saat ini sedang ramai dibicarakan menyusul adanya warga Ponorogo yang pindah ke pondok tersebut karena isu terjadinya kiamat. Namun dari beberapa warga Ponorogo mengaku mondok di Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin hanya untuk belajar ilmu agama, bukan karena termakan isu kiamat.

Isu kiamat di Ponorogo sempat ramai diperbincangkan. Berikut ini pengakuan warga Ponorogo yang datang ke Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin:

Warga Ponorogo, Danang Supardi membantah datang ke ponpes itu karena isu kiamat sudah dekat. Dia bersama keluarga datang untuk menimba ilmu, rencana dia akan mondok sampai bulan Ramadan nanti.

"Di sini ngaji, bersama warga lain juga berasal dari Ponorogo," kata Danang.

Warga Ponorogo lain yang datang ke ponpes Miftahul Falahil Mubtadin, Giyanti (30) ikut mondok bersama suami dan anaknya yang berusia 4 tahun. Ia bersama keluarga berniat beribadah dengan mengaji dan mencari ilmu.

Giyanti dan keluarga yang lain membawa logistik masing-masing sebagai bekal berupa beras dan lauk pauk. Ia mengaku ingin tenang menjalankan ibadah selama di pondok, termasuk salat berjamaah lima waktu. Selama empat hari di pondok yang dijalankan tidak lain hanya salat, mengaji dan berzikir.

Gayatri juga mengatakan, kepergiannya menuntut ilmu sepengetahuan keluarganya lain. Keluarga Gayatri akan kembali pulang ke rumahnya setelah selesai mondok. Ia juga tidak menjual rumah, karena memang akan pulang setelah Ramadan.

"Ramadan di sini terus pulang. Saya di sini menuntut ilmu, cuma itu," tegasnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin, Muhammad Ramli (Gus Romli) mengatakan di pondok selama ini terbuka untuk umum. Siapa pun dipersilakan untuk datang karena memang bersifat untuk umum.

Malam Selasa ngaji tentang akhir zaman, membahas hadis-hadis tentang tanda akhir zaman. Di situ dibahas tentang akhir zaman dengan berbagai referensi dari banyak kitab. Kalau malam Jumat kegiatannya majelis salawatan Musa AS untuk umum. Kemudian malam Sabtu, istiqosah dari Maghrib sampai Isyak berisi zikir.

"Kalau Minggunya toriqot, rata-rata diikuti dari luar kota, kebanyakan. Tapi itu khusus untuk toriqah akmaliyah. Kalau belum berbaiat tidak boleh mendengar karena itu ilmu sirri, ilmu haqiqat," katanya.

Santri pondok tersebut tercatat sebanyak 573 orang santri dari 177 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, sebanyak 132 KK tinggal di dalam lingkungan pondok, sementara 45 KK luar Ponpes. Santri berasal dari Kasembon 51 orang, Kediri 106 orang, Lampung 50, Ponorogo 42, Jember 63, Boyolali 45. Sisanya berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Tuban, Surabaya, Jombang, Mojokerto, Blitar, Ngawi, Tulungagung, Nganjuk, Jember, Magelang, Ngasem dan lain-lain.

Rekomendasi