Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mengimbau para pihak tidak asal mengkafirkan karena perbedaan pandangan politik. Terlebih, bila ada pihak yang mengkafirkannya TGB karena mendukung Joko Widodo melanjutkan kepemimpinannya sebagai Presiden RI pada periode kedua.
"Siapa yang kafirin (saya)? Ya saya sih mendoakan saja lah bahwa hati-hati ketika kita mengkafirkan orang yang tidak kafir. Itu kembali ucapan itu kepada kita," kata dia di RM Taliwang, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (20/7).
Bagi Gubernur NTB ini, perbedaan pilihan politik di Indonesia tidak boleh melahirkan fatw-fatwa keagamaan yang menganggap orang lain yang berbeda pilihan. Yakni muslim dan nonmuslim. Apalagi menyatakan orang lain dianggap tidak komit kepada Islam dan disebut munafik.
Sebab, dia menuturkan, kontestasi kepemimpinan di Indonesia merupakan kontestasi yang kerangkanya berlomba dalam kebaikan. Politisi Demokrat ini mencontohkan kepemimpinan terbaik lahir seperti orang balap lari.
"Seperti orang yang mau sprint lah ada di garis start itu ada delapan orang siap siap semua yaitu semuanya terbaik jadi kalau misalnya ada dua pasang calon, tiga pasang calon itu anak-anak bangsa yang terbaik. Jadi beda pandangan politik antara kita, tidak boleh menyebabkan ada fatwa fatwa keagamaan yang kemudian merusak persaudaraan kita sebagai anak bangsa," imbuh TGB.