Keterlibatan anak-anak sebagai korban dari keluarga pelaku teror yang terjadi di Surabaya menjadi sorotan. Ada empat anak yang berhasil selamat dari aksi tersebut.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menegaskan pemerintah akan menjamin pendidikan empat anak tersebut.
"Siapapun anak harus dijamin pendidikannya. Kita tidak boleh melihat itu anak siapa. Harus non diskriminasi prinsip pendidikan kita," kata Muhadjir di Kantor Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jl Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (16/5)
Dia juga menjelaskan pemerintah akan mengutamakan kesembuhan bagi beberapa anak yang diduga terlibat dalam aksi teror tersebut. Kemudian dia juga mengingatkan kepada publik agar tidak menyudutkan anak-anak yang terlibat dalam aksi teror tersebut.
Serta menegaskan bahwa anak tersebut bukanlah pelaku teror. "Kita juga belum tahu. Biar sembuh dulu," kata dia.
Diketahui sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan tugas besar pihak terkait terhadap empat korban tersebut yakni penanganan segala aspek bagi korban. Komisioner KPAI bidang anak berhadapan hukum, Putu Elvina menuturkan, korban aksi teror tidak sebaiknya diserahkan langsung ke pihak keluarga.
Hal itu penting dilakukan sebagai langkah preventif kembalinya pembibitan paham radikalisme terhadap korban yang rata-rata masih di bawah umur.
"Assessment sangat penting pasca kejadian ini, apakah keluarga memiliki paham yang sama harus ada upaya besar di sini sehingga anak-anak ini yang menjadi korban tidak kembali terpapar radikalisme," kata Putu di kantor KPAI, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).
Namun langkah tegas akan dilakukan pihak terkait jika dalam assessment terdapat celah atau peluang bagi korban kembali terpapar radikalisme, salah satunya menitipkan korban di panti asuhan atau pihak ketiga lainnya.