Aziz Qahhar : Kalau mau kaya jangan jadi Gubernur

Wakil gubernur Sulawesi Selatan nomor urut satu, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar melanjutkan agenda kampanye dialogis di pondok pesantren Hidayatullah Lambara Harapan, Kabupaten Luwu Timur, Kamis (5/4).

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Aziz Qahhar : Kalau mau kaya jangan jadi Gubernur
Aziz Qahhar. ©2018 Merdeka.com

Wakil gubernur Sulawesi Selatan nomor urut satu, Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar melanjutkan agenda kampanye dialogis di pondok pesantren Hidayatullah Lambara Harapan, Kabupaten Luwu Timur, Kamis (5/4).

Sebelum memulai dialog, Aziz Qahhar menegaskan bahwa menjadi calon wakil gubernur merupakan panggilan jiwa melihat masih banyak permasalahan yang ada di Sulsel saat ini. Hal yang sama juga dipegang teguh pasangannya, Nurdin Halid (NH)

NH diakuinya sebagai tokoh nasional yang telah diamanahkan posisi penting dalam panggung politik Indonesia. Akan tetapi panggilan untuk mensejahterahkan masyarakat Sulsel membuat NH memutuskan kembali ke kamoung halaman.

"NH adalah pemain nasional. Beliau ketua harian partai Golkar dan masih banyak jabatan jabatan strategis lain yang dipegangnya. Akan tetapi rela pulang kampung untuk membangun Sulsel. Kami tidak ada tujuan memperkaya diri, karena jika mau kaya jangan jadi pejabat tapi jadi pengusaha," tegas Aziz

Atas alasan tersebut, NH-Aziz diakuinya telag menggagas beberapa program unggulan yang pro rakyat terutama masyarakat pedesaan yang memiliki akses terbatas. Bukan serampangan, visi misi pasangan nasionalis religius tersebut menurutnya juga melibatkan ratusan doktor dan professor.

"Kami benar-benar mengkaji secara tuntas persoalan di Sulsel ini baru kami memberi solusi lewat program yang ditawarkan seperti kesehatan berbasis KTP, pemberian pinjaman usaha kecil tanpa bunga, kartu anak sehat, kartu anak pintar dan banyak lagi program unggulan lainya," terang Aziz

Menurut Aziz, program-program tersebut disusun atas dasar kesadaran bahwa masyarakat kecil harus menjadi perhatian utama. Hal teraebut juga mendasari pasangan nasionalis religius ini membuat tagline membangun di kampung.

"Bagi kami pemimpin itu pelayan, jadi tugas kami hanya melayani masyarakat atas kesejahteraanya. Untuk apa kami maju jika hanya untuk memperkaya diri dan bergagah-gagahan dengan jabatan," tutupnya.

Rekomendasi