Maestro seni payung kertas asal Kota Malang, Mbah Rasimun (90) masih terus berkarya di usia senja. Kulit keriput dan tubuh renta, tidak menyurutkan semangatnya menggoreskan cat di atas payung warna-warni.Ketekunannya mengundang banyak kekaguman, bahkan hingga mancanegara. Penghargaan terbaru diterima Mbah Rasimun dari Sri Paduka Mangkunegoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya. Dedikasi Mbah Rasimun tidak ternilai dalam melestarikan seni dan budaya Indonesia melalui seni pembuatan payung kertas. Mbah Rasimun yang tinggal di Jalan LA Sucipto Gang Taruna 3, RT 04 RW 03, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang itu didaulat bertemu Sri Paduka Mangkunegoro IX di Kasunanan Surakarta.Mbah Rasimun juga sempat didaulat untuk menunjukkan kelihaiannya melukis payung kertas di depan para khalayak."Mbah Rasimun sudah membuat payung kertas sejak tahun 1945, dan konsisten hingga hari ini," kata Rusikin (38), putra Mbah Rasimun di Kota Malang, Kamis (20/9).Kata Rusikin, awalnya payung kertas hasil kreasi Mbah Rasimun dijual dengan berkeliling dengan dipikul. Payung-payung itu dijajakan setiap muncul keramaian di Kota Malang dan sekitarnya. Atas kegigihan dan keteguhan dalam berkarya dan berkreasi payung buatan Mbah Rasimun bisa tembus pasar internasional. Tidak sedikit pula para wisatawan mancanegara tertarik membeli."Kami dan keluarga Mbah Rasimun sangat bangga. Bapak saya bisa mendapatkan penghargaan dari Sri Paduka Mangkunegoro IX," kata Rusikin.Kesuksesan Mbah Rasimun mengangkat Kota Malang di level nasional hingga internasional melalui karyanya. Bahkan dalam waktu dekat Mbah Rasimun diundang ke Thailand untuk sebuah pameran. Prestasi Mbah Rasimun memberikan motivasi bagi warga masyarakat untuk terus berkarya. Bahkan saat ini, warga bersama tokoh masyarakat setempat sedang mengembangkan Kampung Payung sebagai destinasi wisata. Ide tersebut tidak lepas dari kebesaran 'payung-payung' Mbah Rasimun. "Pak RW dan warga akan berembug, bagaimana nantinya pengembangan Kampung Payung di lokasi Mbah Rasimun tinggal saat ini," kata Rasikin.Sementara seniman Yuyun Sulastri dari Karya Bunga Ngalam (Kabunga) sedang menyiapkan kolaborasi payung kertas karya Mbah Rasimun dengan lukisan Topeng Malangan. Karya itu akan dinamakan Payung Ngepot. Kata Ngepot sendiri merupakan bahasa 'walikkan' dari Topeng."Kami akan bekerja sama dengan seni lukis topeng di Desaku Menanti, sehingga kolaborasi ini diharapkan menjadi hal yang sangat positif di waktu mendatang," kata Yuyun.Kolaborasi serupa, kata Yuyun, sebenarnya sudah pernah dilakukan Mbah Rasimun dengan Kabunga. Saat itu, payung kertas kreasi Mbah Rasimun dikombinasi dengan lukisan seorang pelukis ternama Kota Malang. Hasilnya Payung Kertas itu laris manis di pasaran, hingga dipesan wisatawan dari Jepang dan Perancis. "Setelah Mbah Rasimun mendapat penghargaan, warga sekitar semangat untuk mengembangkan seni tersebut. Tentunya ini adalah peluang yang baik bagi tumbuhnya ekonomi warga," kata Yuyun.
Mbah Rasimun, maestro seni payung kertas asal Kota Malang
Maestro seni payung kertas asal Kota Malang, Mbah Rasimun (90) masih terus berkarya di usia senja. Kulit keriput dan tubuh renta, tidak menyurutkan semangatnya menggoreskan cat di atas payung warna-warni.
Advertisement
Rekomendasi