Perjuangan Prima Wisnu Wardhana peraih emas SEA Games 2017 cabang panahan

Perjalanan meraih emas bukanlah hal yang mudah bagi Prima. Prima bahkan pernah dicoret dari Pelatnas di tahun 2015. Usai dicoret, Prima bukannya patah arang tetapi justru semakin semangat untuk berlatih. Bahkan hampir setiap hari, dia selalu berlatih untuk menebus kegagalannya saat Pelatnas.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Perjuangan Prima Wisnu Wardhana peraih emas SEA Games 2017 cabang panahan
Prima Wisnu Wardhana dan keluarga. ©2017 Merdeka.com/purnomo

Prima Wisnu Wardhana, atlet panahan yang turun di SEA Games 2017 tak pernah menyangka akan meraih medali emas. Sebab, awalnya remaja asal Kota Yogyakarta ini tidak ditargetkan meraih medali emas kelas compound 50 meter individu putra di SEA Games 2017. Bermain di Malaysia, Prima demikian dia biasa disapa, justru ditargetkan meraih emas beregu.Perjalanan meraih emas bukanlah hal yang mudah bagi Prima. Prima bahkan pernah dicoret dari Pelatnas di tahun 2015. Usai dicoret, Prima bukannya patah arang tetapi justru semakin semangat untuk berlatih. Bahkan hampir setiap hari, dia selalu berlatih untuk menebus kegagalannya saat Pelatnas."Setiap hari saya latihan. Pagi sampai sore. Setiap ada waktu luang saya selalu latihan. Lalu saya ikut beberapa kejuaraan dan bisa meraih medali setelah dicoret dari Pelatnas," ujar mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani dan Keolah Ragaan (PJKR) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Senin (28/8).Hasil perjuangan dan kerja keras Prima ini pun tak sia-sia. Di bulan Maret 2017, datang surat panggilan untuk masuk seleksi Pelatnas dari Pengurus Besar Persatuan Panah Indonesia (PB Perpani). Nilai Prima yang semakin meningkat, membuat dirinya lolos masuk Pelatnas dan akhirnya berangkat ke SEA Games 2017."Pas Pelatnas latihannya seminggu 6 kali. Minggu libur. Latihan dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Ada istirahatnya jam 12 siang sampai jam 2 siang. Pelatnas-nya di Cibubur tapi kurang sebulan sebelum SEA Games, latihan pindah ke Surabaya. Latihan di Surabaya untuk adaptasi angin karena angin di Surabaya lebih kencang daripada di Cibubur," terang Prima saat ditemui di rumahnya yang berada di kawasan Pakualaman.Prima menceritakan bahwa saat bertanding di SEA Games 2017, faktor lapangan sempat membuatnya harus beradaptasi. Jika saat latihan di Pelatnas, Prima berlatih di lapangan rumput maka di Malaysia Prima harus bermain di lapangan berumput sintetis. Kondisi ini membuat panasnya dari dua sisi yaitu dari matahari langsung dan yang satunya pantulan panas dari rumput sintetis.Prima memaparkan saat bermain di final dirinya sempat merasa tidak percaya diri menghadapi atlet panahan tuan rumah. Atlet tuan rumah yang dilawannya memiliki peringkat dunia yang jauh berada di atas Prima."Atlet Malaysia peringkat 47 dunia sedangkan saya peringkat 237 dunia. Apalagi saat bermain di final, satu stadion dipenuhi oleh suporter Malaysia. Saya agak deg-degan. Apalagi bidikan start saya tidak bagus. Saya lalu dipanggil oleh pelatih agar tak memedulikan suporter tuan rumah," urai Prima.Prima mengisahkan usai dinasehati oleh pelatih, dirinya pun kemudian mengembalikan konsentrasinya. Bidikan Prima pun semakin baik. Akhirnya, medali emas pun kemudian berhasil diraihnya."Senang bisa juara. Apalagi bisa mengharumkan nama Indonesia di SEA Games," tutup Prima.

Rekomendasi