Dua program milik Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terpilih masuk jajaran 99 Inovasi Terbaik pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN-RB). Dua program itu adalah Siswa Asuh Sebaya (SAS) dan E-Village Budgeting (EVB). Keduanya berhasil masuk jajaran 99 terbaik dari 3.600 program seluruh Indonesia.Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas program SAS akan menumbuhkan rasa solidaritas antar siswa kepada teman-teman mereka yang tidak mampu. Dengan program SAS pemerintah daerah berusaha mendorong empati dan solidaritas di kalangan pelajar. Dalam program ini pelajar dari keluarga mampu memberi dana sukarela kepada teman sebayanya dari keluarga kurang mampu. Pengelolaannya dilakukan dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa.Menariknya, sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2011, SAS berhasil mengumpulkan dana hingga Rp 12,8 miliar dengan menjangkau lebih dari 20.000 siswa di Kabupaten Banyuwangi. Pada awal diluncurkan di tahun 2011, total dana SAS yang terkumpul sebanyak Rp 293 juta. Jumlahnya meningkat menjadi Rp 1,05 miliar pada 2012, kemudian melonjak menjadi Rp 2,36 miliar pada 2013. Angka ini naik lagi menjadi 2,56 miliar pada 2014 dan Rp 2,6 miliar pada 2015. Sedangkan pada tahun 2016 ini hingga awal November dana SAS yang terkumpul Rp. 1,89 miliar."Tidak semua masalah pendidikan bisa ditangani oleh pemerintah daerah. Program SAS jadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan tangan pemerintah dalam membiayai pendidikan masyarakat," kata Anas.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ©2017 Merdeka.com
Anas mengatakan, SAS ditujukan untuk membantu kebutuhan siswa yang belum masuk dalam jangkauan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun program dari pemerintah lainnya. SAS ini termasuk mengcover kebutuhan transportasi ke sekolah atau pembelian kacamata bagi pelajar yang mengalami gangguan mata."Kalau biaya dasar kan sebenarnya sudah tidak ada, tapi ada kebutuhan lain. Jumlah pelajar di Banyuwangi di sekolah negeri mencapai 171.000 siswa, tentu dana pemerintah daerah tidak mencukupi jika harus memfasilitasi hal-hal penunjang tersebut, seperti beli kacamata, sepatu, sepeda. Makanya, kita bikin gerakan SAS yang tidak butuh prosedur berbelit untuk saling bantu di kalangan pelajar," ujar Anas.Program SAS seluruhnya dikelola oleh siswa sendiri. Guru hanya sebatas memantau."Ada yang menyumbang Rp 1.000, Rp 2.000, semua sukarela. Ini cara kami untuk membangun modal sosial yang baik di antara generasi muda di Banyuwangi. Nilai-nilai kepercayaan juga ditanamkan karena semuanya dikelola dan dilaporkan siswa sendiri," ujarnya."Partisipasi siswa terus meningkat pada program ini, ini menunjukkan tingkat kepedulian siswa terhadap rekannya begitu besar. Jadi SAS ini bukan sekadar membantu siswa, tapi lebih dari itu adalah membangun kepedulian di lingkungan generasi muda. Rasa peduli, care, ini yang coba kita tumbuhkan, agar tidak hilang di masyarakat," terang Bupati Anas.Anas menambahkan, gerakan SAS menjadi pelengkap dari program intervensi kebijakan pemerintah daerah lainnya. Di Banyuwangi, telah ada program Banyuwangi Cerdas dan Banyuwangi Belajar di mana para pemegang kartu program tersebut bisa mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi dengan beasiswa dari Pemkab Banyuwangi.
"Kami juga ada Garda Ampuh (gerakan daerah angkat anak putus sekolah). Anak-anak putus sekolah kami sisir dan kami kembalikan mereka ke bangku sekolah. Selain dibiayai dari pemda, sejumlah kebutuhan mereka juga akan dipenuhi lewat dana SAS," jelas Anas.Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiono menambahkan program ini telah menyasar sebanyak 234 ribu siswa dari 911 sekolah se Banyuwangi. "Misalnya untuk membayar les tambahan. Bisa juga kebutuhan personal seperti seragam dan perlengkapan sekolah bisa diambilkan dari dana SAS," terangnya.Seiring dengan beragam program jaring pengaman pendidikan di Banyuwangi, imbuh Sulihtiono, angka putus sekolah di Banyuwangi terus menurun dari tahun ke tahun. Untuk tingkat SD/MI, angka putus sekolah menurun dari 0,05 persen pada 2011 menjadi 0,03 persen pada 2015. Pada tingkat SMP/MTs, angka putus sekolah mencapai 0,48 persen pada 2011, lalu turun menjadi 0,35 persen pada 2015. Adapun pada level SMA/SMK/MA, angka putus sekolah turun dari 1,01 persen pada 2011 menjadi 0,3 persen pada 2015.
Advertisement