Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 11.668 rumah hancur lantaran gempa yang melanda Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12) lalu. Kajian BNPB minimnya pengetahuan masyarakat tentang bangunan tahan gempa menjadi penyebab mudah rusaknya bangunan ketika diguncang gempa."Selama ini kenapa banyak bangunan yang rusak? Karena minimnya pengetahuan masyarakat (tentang bangunan tahan gempa), meski regulasinya ada, pedoman penyusunan pembangunan rumah yang tahan gempa yang sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia)," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (10/12).Sutopo mengatakan, aspek lain mudahnya bangunan itu runtuh ketika diguncang gempa karena regulasi. Menurut Sutopo, belum ada Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang mensyaratkan bangunan dibangun harus tahan gempa."Sehingga masyarakat masih banyak membangun rumah di daerah rawan gempa dengan bangunan tidak tahan gempa," ujarnya.Diketahui, selain rumah, gempa 6,5 skala richter di Aceh juga merusak 157 ruko, di mana 108 roboh 31 rusak berat, 3 rusak sedang, dan 15 rusak ringan. Lalu, ada 64 masjid dengan 31 rusak berat, 2 rusak sedang, 31 rusak ringan. Dan terdapat 88 musala rusak serta 14.600 meter jalan juga mengalami kerusakan.
BNPB sebut banyak masyarakat minim pengetahuan bangunan tahan gempa
BNPB sebut banyak masyarakat minim pengetahuan bangunan tahan gempa. Kepala BNPB Sutopo mengatakan, aspek lain mudahnya bangunan itu runtuh ketika diguncang gempa karena regulasi. Menurut Sutopo, belum ada Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang mensyaratkan bangunan dibangun harus tahan gempa.
Baca Juga
Gempa Aceh, KAI Terapkan BLB di Medan
Advertisement
Rekomendasi