Gus Ipul sebut dokter gigi di Indonesia sangat minim, termasuk Jatim

Dia melanjutkan, saat ini ‎di Jawa Timur tercatat ada 152 dari 960 Puskesmas di 855 desa yang tidak memiliki dokter gigi. "Dengan jumlah penduduk sekitar 38 juta jiwa, hanya 4.100 dokter gigi yang terdaftar di Jatim dengan rasio 1:10 atau seorang dokter gigi untuk 10 ribu penduduk," jelasnya.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
Gus Ipul sebut dokter gigi di Indonesia sangat minim, termasuk Jatim
Gus Ipul di Airlangga Internasional Dental Expo. ©2016 Merdeka.com/Moch Andriansyah

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul menyebut, Indonesia masih kekurangan tenaga dokter gigi. Oleh karena itu, kata dia, Indonesia harus mengejar kesiapan tenaga kerjanya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah dimulai sejak 31 Desember 2015 lalu. Hal ini dikatakan Gus Ipul usai menghadiri‎ AIDENTEX (Airlangga Internasional Dental Expo) 2016 bersama Dekan Fakultas Kedokteran Gigi dan Pembantu Rektor IV Unair di Surabaya, Kamis (20/10). ‎Menurut Gus Ipul, untuk menguatkan ‎posisi Indonesia dalam persaingan MEA, ada delapan bidang profesi yang sudah wajib mendapatkan mutual recognation arrangement (MRA) atau pengaturan pengakuan kesetaraan. Kedelapan bidang profesi itu antara lain insinyur, arsitek, tenaga survei, dokter, dokter gigi, perawat, akuntan, dan tenaga pariwisata. "‎Indonesia masih kekurangan tenaga profesional dokter gigi, termasuk di Jatim," ‎kata Gus Ipul.Dia melanjutkan, saat ini ‎di Jawa Timur tercatat ada 152 dari 960 Puskesmas di 855 desa yang tidak memiliki dokter gigi. "Dengan jumlah penduduk sekitar 38 juta jiwa, hanya 4.100 dokter gigi yang terdaftar di Jatim dengan rasio 1:10 atau seorang dokter gigi untuk 10 ribu penduduk," jelasnya. Sebagian besar dokter gigi yang ada di Jawa Timur, masih kata Gus Ipul, menumpuk di kota-kota besar, seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang dan Jember. "Bahkan lebih dari 40 persen dokter gigi berada di Surabaya," ucapnya. ‎Gus Ipul juga melihat kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia, khususnya jumlah dan persebaran dokter gigi di Jawa Timur, menjadi tantangan untuk pemerintah dan profesi dokter gigi. "Di satu sisi, pemerintah harus merancang penapisan dokter gigi asing yang akan masuk ke Indonesia (non tax barrier)," ujarnya.Kemudian di sisi lain, pemerintah dan organisasi profesi dokter gigi harus secepat mungkin membuat lompatan peningkatan kompetensi dokter gigi Indonesia. "Tujuannya agar dapat bersaing dengan dokter gigi asing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Lompatan kompetensi dokter gigi Indonesia dapat ditingkatkan melalui transfer pengetahuan dan transfer teknologi kedokteran gigi," jelasnya. ‎Karena itu, kata salah satu Ketua PBNU ini, Pemprov Jawa Timur mendukung sepenuhnya penyelenggaraan AIDENTEX 2016 ini. Karena pameran yang kali pertama digelar dan digagas FKG Unair Surabaya ini, merupak sebuah konsep baru pameran alat dan bahan kedokteran gigi terbesar di Indonesia.‎"Kegiatan positif. Ini adalah bukti nyata geliat dokter gigi di Jawa Timur sebagai upaya memperkuat barisan professional Indonesia dalam berkompetisi di era MEA," tandasnya.

Rekomendasi