Saat rekonstruksi, Jessica merasa banyak yang menatap sinis

Saat rekonstruksi, Jessica merasa banyak yang menatap sinis. Jessica mengaku semakin tertekan oleh tatapan sinis yang dilempar semua orang di kafe tersebut.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Saat rekonstruksi, Jessica merasa banyak yang menatap sinis
Sidang Jessica. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Jessica Kumala Wongso membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam sidang kasus kematian Wayan Mirna Salihin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam pleidoi setebal 3.000 halaman tersebut Jessica mencurahkan isi hatinya selama ini.Fase terberat yang ia alami yakni saat proses rekonstruksi yang dilakukan penyidik Polda Metro Jaya di Kafe Olivier, Mal Grand Indonesia tak lama setelah ia ditetapkan sebagai tersangka. Saat rekonstruksi Jessica mengaku tertekan akan tatapan sinis dari para pengunjung Kafe Olivier, keluarga Mirna serta penjagaan ketat yang dilakukan pihak kepolisian."Yang mulia salah satu pengalaman yang terberat ialah saat rekonstruksi. Setiba di sana (Kafe Olivier) saya melihat banyak sekali polisi baik di luar maupun di dalam. Apapun yang dilakukan itu (polisi) sudah berhasil menekan saya," ujar Jessica sambil berlinang air mata saat membacakan pleidoi di PN Jakarta Pusat, Rabu (12/10).Jessica mengaku semakin tertekan oleh tatapan sinis yang dilempar semua orang di kafe tersebut. "Dengan memakai baju tahanan saya sudah mendapatkan tatapan sinis dari pengunjung serta pegawai Olivier (Kafe Olivier)," tuturnya."Yang paling menyakitkan saat saya bertemu suami Mirna, Arief serta kembaran Mirna, Sandy yang juga menatap sinis ke saya," lanjutnya.Di samping itu, Jessica juga menjelaskan apa yang ia rasakan dibalik sikap tenangnya selama ini. "Dibalik sikap tenang saya, saya ingin berteriak mengatakan bahwa saya tidak melakukan hal yang dituduhkan ke saya," ucapnya."Setelah itu rekonstruksi dilanjutkan ke toko sabun di lantai atas, di situ saya mendapatkan tatapan sinis dari pengunjung," pungkasnya.

Rekomendasi