Guru Sekolah Menengah Kejuruan Nasional (SMKN) 2 Makassar Dasrul mengalami gangguan saraf setelah dianiaya seorang murid dan orangtuanya. Dasrul kini mudah lupa.
"Kondisi beliau saat ini mengalami gangguan saraf, kalau bicara agak terlambat dan mudah lupa," ujar Istri Dasrul, Siti Khadijah seperti dikutip dari Antara, Jumat (16/9).
Akibat penganiayaan yang dilakukan oleh orangtua murid dan murid tersebut, tulang hidung Dasrul patah dan harus dilakukan operasi untuk membenarkan letak tulang hidungnya. Khadijah menambahkan, dampak pemukulan tersebut mengganggu saraf.
"Kata dokter, memang dampaknya pada pipi dan saraf, karena beliau dipukul oleh pelaku yang menggunakan batu akik dan itu dilakukan berkali-kali.
Tak hanya mengalami gangguan saraf, Dasrul dan keluarga juga mendapat tekanan psikis dan fisik karena perkara tersebut.
"Misalnya, ada yang bilang kami dilaporkan ke Komnas HAM, tapi ternyata setelah dicek ternyata benar. Banyak teror-teror yang mengganggu ketenangan keluarga kami," keluh dia.
Hingga saat ini, Dasrul belum bisa mengajar kembali di sekolah tersebut. Hal ini karena dia tidak bisa melihat secara jelas.
"Belum tahu, kapan bisa mengajar kembali," keluh Dasrul.
Meski demikian, pihaknya meminta agar proses hukum terus berjalan. Dasrul juga membantah jika terjadi proses damai pada persidangan tersebut.
Ketua Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia, M Asmin, mengatakan pihak PGRI ingin proses hukum terus berlanjut agar dapat menjadi pembelajaran bagi murid dan juga orangtua murid.
"Kalau damai, kami khawatir nantinya akan terjadi kejadian serupa. Untuk itu, kami ingin agar proses hukum terus berlanjut," kata Asmin.