Pak Menteri, saya ingin sembuh dan segera haji

Menag mengunjungi beberapa ruangan seperti ruangan IGD, ruangan ICU dan ruang isolasi.

Anwar Khumaini
Oleh Anwar Khumaini - Reporter
Pak Menteri, saya ingin sembuh dan segera haji
Menag dan jemaah tertua Siti Mian. ©2016 Merdeka.com

Masih menjadi kepercayaan sebagian jemaah haji Indonesia, apa yang dialami di Tanah Suci sebagai balasan dari perbuatan selama di Tanah Air. Jika memperoleh kemudahan, berarti selama di Tanah Air mereka sering berbuat baik. Sebaliknya, jika mendapat hambatan-hambatan selama di Tanah Suci, itu sebagai balasan dari apa-apa yang telah dilakukan di Tanah Air.Sehingga, tak sedikit jika jemaah haji kita yang malu mengakui jika tersesat saat di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. Pun jika mereka sakit, semua itu diratapi sebagai balasan apa yang telah mereka perbuat di Tanah Air. Oleh karenanya, saat meliput jemaah haji yang sakit, tim Media Center Haji (MCH) diwanti-wanti untuk tidak mengambil gambar secara close up, sehingga tidak tersebar di masyarakat demi menjaga jemaah haji yang bersangkutan, serta keluarga di Tanah Air.Siang waktu Arab Saudi, Rabu (7/9) lalu, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengunjungi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Selain bertemu dengan para petugas kesehatan, Menteri Agama menyempatkan bertemu dengan puluhan jemaah haji yang sedang dirawat di klinik tersebut. Menag mengunjungi beberapa ruangan seperti ruangan IGD, ruangan ICU dan ruang isolasi. Ditemani Dirjen Kesehatan Kemenkes Anung Sugihartono, serta beberapa pejabat di lingkungan Kementerian Agama, Lukman sempat berbincang-bincang dengan para pasien. Tak sedikit dari jemaah haji yang dirawat menutup mukanya, tahu ada media yang datang meliput.Salah satu pasien asal Jepara, Jawa Tengah bercerita kepada Menteri Lukman dalam bahasa Jawa, bahwa dirinya ingin segera sembuh dan segera menjalankan puncak haji yang tinggal 4 hari saja. "Saya awalnya tidak apa-apa, cuma gemetaran saja karena belum makan," kata kakek usia sekitar 60-an tersebut kepada Menteri Agama."Saya doakan semoga segera sembuh ya kek," kata Menteri Lukman diamini kakek tersebut.Lukman menuju pasien selanjutnya yang masih satu ruangan. Dengan terbata-bata pasien yang didatangi Menteri Lukman minta doa semoga segera sembuh. "Minta doanya supaya saya segera sembuh dan bisa berhaji," ujar kakek penderita penyakit sesak napas tersebut dengan suara lirih dan terbata-bata.Ada sekitar 5 pasien yang didatangi Menteri Agama di ruangan tersebut. Rata-rata mereka minta didoakan supaya sembuh dan segera bisa bergabung dengan jemaah lainnya yang sudah bersiap menghadapi puncak haji 11 September mendatang.Menteri Agama juga sempat mengunjungi pasien yang mengalami gangguan jiwa dan demensia akut (pikun). Salah seorang pasien minta Menag membuka tali yang mengikat kedua kaki dan kedua tangannya. "Tolong dicopot, saya ingin ibadah dan dapat pahala," kata nenek yang menderita gangguan jiwa tersebut.Kepada nenek tersebut, Menteri Agama meminta untuk sabar. "Semoga lekas sembuh ya," ujar Lukman sambil berlalu.Hingga H-3 pelaksanaan wukuf kemarin, lebih dari 100 jemaah haji Indonesia masih dirawat di Arab Saudi. Mereka tersebar dalam beberapa rumah sakit, seperti di Rumah Sakit Arab Saudi di Makkah dan Madinah. Ada juga jemaah yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Jika saat pelaksanaan wukuf 11 September nanti mereka belum sembuh, mereka akan di-safari wukufkan."Lebih (70 jemaah). Sampai dengan hari ini, data yang kita terima jam 12 siang waktu Arab Saudi masih ada 58 yang masih dirawat di RS Arab Saudi, 51 di Makkah dan 7 di Madinah. Saya harus monitor kondisinya sampai H-1. Yang di KKHI saja 99 pasien," kata Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono di Daker Makkah, Kamis (8/9) kemarin.Safari wukuf adalah memperjalankan jemaah haji yang sakit menuju padang Arafah untuk menunaikan ibadah wukuf menggunaan bus yang dimodifikasi sedemikian rupa, disesuaikan dengan kondisi fisik jemaah haji. Saat ini, PPIH Arab Saudi menyediakan 10 bus untuk safari wukuf jemaah haji."Sampai sekarang komposisi mobil untuk safari wukuf masih sama. 6 Untuk jemaah yang duduk dan 4 untuk jemaah yang berbaring. Sampai saat ini kami belum lihat bis itu posisinya di mana. Baru H-1 (besok)," kata Anung.Sementara, jemaah haji yang meninggal dunia akan dibadalhajikan (digantikan orang lain) oleh Kementerian Agama. Tak cuma jemaah haji yang wafat, jemaah yang mengalami gangguan jiwa juga akan dibadalhajikan."Yang dibadalhajikan adalah jemaah haji kita yang wafat. Baik yang dari Tanah Air, itupun yang sudah masuk embarkasi, sampai dengan jemaah wukuf di Arafah," kata Direktur Pembinaan Haji dan Umroh Muhajirin Yanis di kantor Daker Makkah, Jumat (9/9)."Tidak hanya jemaah yang wafat. Tapi jemaah yang sedang dirawat yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap alat bantu kesehatan. Mereka yang secara fisik sehat tapi secara kejiwaan hilang ingatan," imbuh Muhajirin.Saat merdeka.com mengunjungi Klinik Kesehatan Haji Indonesia, masih ada 12 jemaah haji yang mengalami jangguan jiwa serta dimensia akut. Mereka ada yang mengaku masih berada di kampung halamannya, bahkan ada yang mengaku datang ke Arab Saud menggunakan kendaraan untuk menghadiri undangan reboisasi."Saya datang ke sini atas undangan untuk melakukan reboisasi," kata pria paruh baya tersebut saat ditemui Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.Para jemaah haji yang hilang ingatan dan pikun ini nantinya akan dibadalhajikan, sehingga mereka akan tetap menyandang status haji tapi digantikan oleh orang lain. Sementara, jemaah yang sakit seperti bapak-bapak di atas, akan disafari wukufkan. Mereka tetap dibawa ke Arafah tapi menggunakan bus khusus.

Rekomendasi