Keluarga tak kenal wanita yang jadi penyebab Apriadi bunuh polisi

Siapa sosok Brenda tidak banyak diketahui oleh keluarga Apriadi maupun temannya.

Abdullah Sani
Oleh Abdullah Sani - Reporter
Keluarga tak kenal wanita yang jadi penyebab Apriadi bunuh polisi
Bentrok warga dan polisi di Meranti. ©2016 merdeka.com/abdullah sani

Ratusan massa menyerbu Mapolres Kepulauan Meranti terjadi pasca tewasnya Apriadi Pratama (24) seorang pegawai honor Dispenda Pemkab setempat di tangan polisi. Apriadi ditembak karena melawan saat ditangkap lantaran membunuh Brigadir Adil S Tambunan hanya gara-gara seorang wanita yang belakangan diketahui bernama Brenda.Siapa sosok Brenda tidak banyak diketahui oleh keluarga Apriadi maupun temannya. Sebab, pihak keluarga tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan gadis yang disebut sebut menjadi penyebab tewasnya dua pemuda yang berlainan profesi itu. Iyan Hidayat (19) adik kandung Almarhum Apriadi mengaku tidak terlalu kenal dengan Brenda. Meski dia tahu kakaknya memiliki pacar yang bernama Brenda, tidak secara langsung, melainkan dari cerita ibundanya."Saya tidak tahu siapa dia (Brenda). Saya cuma pernah dengar dari Ibu saya, dia pacaran sama abang saya," ujar Iyan, saat berbincang dengan sejumlah wartawan, Jumat (26/8). Menurut Iyan, Apriadi sangat tertutup jika menyangkut persoalan asmara. Dia tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang pacarnya, kecuali hanya kepada ibunya. "Kalau soal itu dia hanya cerita kepada Ibu saya. Kalau kami adeknya tidak pernah tahu," ucap Iyan. Sementara itu, tiga hari sebelum kejadian Apriadi memang terkesan berbeda dari hari biasanya. "Abang saya itu berubah jadi pendiam sebelum kejadian, padahal biasanya dia ramai orangnya (penuh canda)," ujar Iyan.Di mata keluarga, Apriadi merupakan sosok yang bertanggungjawab. Sebab, dia merupakan tulang punggung keluarga sejak ayah mereka meninggal dunia tiga tahun lalu. Keluarga Apriadi mengaku sangat kehilangan atas kejadian tersebut."Kami enam bersaudara . Dia lelaki yang paling tua. Anak tertua perempuan, kemudian dia. Kami benar benar kehilangan. Kenapa almarhum pergi secepat ini," kata Iyan. Terkait tawaran Kapolda Riau yang memberikan kesempatan kepada Iyan untuk masuk Polri, dia sendiri masih mengaku bingung. Saat ini dia masih belum menerima abangnya dibunuh oleh aparat yang harusnya melindungi dan menegakkan hukum secara profesional. "Saya bingung. Enggak mungkin saya jadi polisi sementara mereka yang membunuh dengan keji abang saya. Masih belum terima rasanya," pungkas Iyan.

Rekomendasi