Membuka rahasia Adat Tenganan melalui Mata Jiwa

Selain tinggal di pedalaman, mereka satu-satunya di Bali yang menganut Hindu aliran Dewa Indra, yakni Dewa Perang.

Tim Merdeka
Oleh Tim Merdeka - Reporter
Membuka rahasia Adat Tenganan melalui Mata Jiwa
Buku Mata Jiwa. ©2016 Merdeka.com/Haris Jauhari

Kehidupan masyarakat Desa Tenganan Pagringsingan di Bali sudah sangat terkenal di dunia. Mereka disebut Bali Aga, yaitu penduduk asli yang awal sekali mendiami pulau ini dan sampai sekarang masih hidup dalam tata cara adat kuno yang diwariskan para leluhurnya.

Walaupun terbuka untuk turis, namun kehidupan sosial dan ritual mereka sesungguhnya sangat tertutup. Bahkan, orang Bali pun banyak yang tidak tahu dan belum pernah menyaksikan. Maklum, selain tinggal di pedalaman, mereka satu-satunya di Bali yang menganut Hindu aliran Dewa Indra, yakni Dewa Perang.

Kehidupan tertutup itulah yang dipotret dengan telaten, penuh kesabaran, ketulusan, dan kepedulian selama lebih dari 15 tahun oleh Marinta Serina Singarimbun dan Amalia Firman yang berasal dari luar Bali.

Potret itu mereka tuangkan dalam buku "Mata Jiwa, A Memoir of Tenganan Pagringsingan", yang diluncurkan bersamaan dengan acara Jazz Market by The Sea di Taman Bhagawan, Nusa Dua, Bali, Minggu (21/8) petang.

Sebuah buku fotografi dan teks puitik yang menawan dan langka, yang mengungkap kehidupan spiritual paling rahasia masyarakat Tenganan.

"Ini buku yang dibuat dengan penuh perjuangan dan pernah membikin saya empat kali ingin mundur karena merasa harus menyerah," kata Marinta yang menulis teks puitik dan konseptor buku itu.

"Yang paling berat adalah mendapat kepercayaan masyarakat untuk menerima kami di tengah kehidupan dan upacara ritual mereka yang sangat sakral," kata Amalia yang membuat fotografinya.

Teks dan foto dalam Mata Jiwa sebagian besar tak pernah terlihat dalam buku dan literatur lain tentang Bali. "Kami memang mempunyai adat istiadat dan filosofi yang berbeda dengan desa-desa lain di Bali," kata I Nyoman Sadra, tokoh masyarakat Tenganan Pagringsingan, yang hadir dalam peluncuran buku itu bersama kepala desanya, Putu Yudiana Krenteng.

"Buku ini akan membuka mata dunia tentang bagian terdalam masyarakat kami," kata Kades Krenteng.

Buku ini mampu menggambarkan dengan baik filosofi masyarakatnya. "Ada beberapa kegiatan yang bahkan tertutup untuk sebagian masyarakat kami sendiri," kata Kades Krenteng.

Rekomendasi