Keluarga ABK TB Charles meminta pemerintah segera membebaskan tujuh awak dari cengkeraman kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Kekhawatiran mereka semakin menjadi saat tahu militer Filipina tengah menggempur kelompok Abu Sayyaf.Hari ini, 21 Juli 2016, tepat 30 hari tujuh kru TB Charles ditawan militan Filipina. Para istri memilih berkumpul bersama dan saling menyemangati. Meski begitu, mereka tidak bisa menutupi kekhawatiran tentang nasib suami dan anak mereka."Ya, kami dengar info penyerangan itu. Hari ini sudah sebulan suami kami disandera. Kami kumpul-kumpul, saling menguatkan, saling menghibur," kata istri ABK Ismail, Dian Megawati Ahmad, kepada merdeka.com, saat ditemui, Kamis (21/7).Menurut Dian, kemarin, Rabu (20/7), mereka bertemu perusahaan. Dia diberi kabar suaminya baik-baik saja. Namun, hatinya tetap gundah memikirkan sang suami."Tidak perlu ditanya, jangan tanya seperti itu. Kalau dipikirkan bisa gila. Kalau takut pasti takut. Kalau baca media, Filipina jamin keselamatan tujuh ABK," ungkap Dian.
Dalam kesempatan itu, keluarga korban berharap pemerintah segera membebaskan suami mereka dari tangan Abu Sayyaf."Minta pemerintah segera bebaskan sandera. Langkah konkret dan tetap 7 ABK selamat. Minta perhatian Pak Jokowi sebagai pimpinan negara. Khawatirnya ada apa-apa dengan suami kita di lokasi sana. Karena sudah 30 hari, semakin lama disandera, semakin besar risiko," ujar istri ABK Robin Piter, Elona Ramadhani.Istri korban sandera lainnya, Sri Dewi, juga datang ke Samarinda dan tiba kemarin, dari Takalar, Sulawesi Selatan. Dewi ingin tahu langsung proses pembebasan suaminya. Sebab, sejauh ini, dia tidak pernah dihubungi langsung oleh pemerintah maupun pihak perusahaan."Yang mengabarkan ke saya cuma dari sepupu saya di Samarinda. Khawatir sih iya, untuk itu saya langsung ke sini. Bulan April kemarin, dia (Sofyan) bilang akan pulang ke Takalar, kalau sudah pulang dari Filipina. Rencananya habis lebaran ini," kata Sri Dewi, yang baru menikah dengan Sofyan pada Agustus 2015 lalu.Tujuh ABK TB Charles disandera 20 Juni 2016 lalu, saat dalam perjalanan dari Filipina menuju Samarinda, Kalimantan Timur. Enam kru selamat akhirnya tiba di Samarinda, Selasa (28/6) malam.