Prahara belum mau pergi dari Bupati Dedi

Yang dipersoalkan masih sama, yaitu soal tudingan syirik dialamatkan kepada Dedi.

Aryo Putranto Saptohutomo
Prahara belum mau pergi dari Bupati Dedi
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. ©2016 merdeka.com/bram salam

Sosok Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, seolah menjadi magnet kuat banyak kalangan. Bukan cuma bagi pendukungnya, tetapi juga seterunya.Dedi kini bermasalah dengan pemuka agama di Ciamis. Pimpinan Padepokan 212 Hidayatul Azkiya, Raden Sya'ir Langit, menentang lawatan Dedi ke Ciamis buat menghadiri silaturahim usai Idul Fitri, pada Jumat (15/7) mendatang.Raden Sya'ir menolak kedatangan politikus Partai Golkar itu ke daerahnya. Alasannya, Raden Syair menilai Dedi adalah sosok musyrik lantaran banyak membangun patung di Kabupaten Purwakarta.Ancaman dan penolakan Raden Sya'ir Langit pada Dedi disampaikan secara terbuka melalui akun Facebook pribadinya."Menanggapi kedatangan si Dedi Mulyadi bupati purwakarta yg musyrik, yg sudah mengacak-ngacak aqidah umat Islam, wabilkhusus di daerah Pasundan, yg akan datang ke daerah saya, Rancah Ciamis, tepatnya di daerah Dadiharja, denga kemasan hiburan seni budaya, pdahal selalu di selipkan segala yg berbau musrik, maka saya pribadi, atas nama umat Islam, atas nama Padepokan 212 Hidayatul Azkiya, mengecam keras dan menolak kedatangan nya,Hei Dedi yg merasa paling sunda,

Hei Dedi yg merasa paling jawara yg mengaku-ngaku keturunan Prabu Siliwangi dan suami dari Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul,

Hei Dedi yg suka membuat patung berhala beserta sesajen nya sehingga Purwakarta di penuhi dengan patekong di setiap sudut kota, Saya tidak ridho Anda menginjakan kaki di tanah Galuh ini, Monggo saya tunggu anda jika tetap nekad datang kesini, jika selama ini anda paling jawara, saya ajak anda satu lawan satu debat mulut atau tangan dengan saya. Saya berharap kepada seluruh element masyarakat, ormas Islam, ormas nasional, ormas lokal, tokoh Ulama, tokoh masyarakat yg masih peduli terhadap aqidah Agama Islam, untuk bersatu padu menolak kedatangan si Dedi Musyrik di tanah Galuh, Rancah Ciamis ini."Saat ditemui di Gedung Sate Kota Bandung, Dedi mengaku akan tetap datang ke Ciamis memenuhi undangan dari masyarakat sekitar. "Saya akan tetap datang ke Ciamis tanggal 15 nanti. Undangan perkumpulan warga yang merantau dari berbagai daerah," kata Dedi, kemarin.


Dedi merasa sebagai pihak diundang akan sangat menghargai. Dia juga merasa berhak datang. Menyangkut keamanan dan keselamatan jiwanya, dia menyerahkan sepenuhnya ke polisi."Saya akang datang. Karena undangannya sudah sejak dua bulan lalu. Keselamatan dan keamanan saya serahkan ke pihak kepolisian. Nanti kita lihat untuk lapor polisi. Kita tetap datang. Pak Kapolres Ciamis menjamin (kemanan dan keselamatan) saya," ujar Dedi.Beberapa waktu lalu, perseteruan antara lembaga dakwah Manhajus Sholihin dengan Dedi juga sempat memanas. Akar masalahnya adalah sudah ada sejak lama. Umat Islam di Purwakarta menganggap ide Dedi membikin patung di beberapa tempat di daerah itu, serta mengikatkan kain bercorak kota-kotak berwarna hitam putih di pohon dan patung, dianggap sebagai perbuatan syirik. Ditambah, diduga Dedi mendahulukan salam ala Sunda, sampurasun, daripada mengucapkan Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.Hal itu dikritik Imam Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab, saat mampir dan berceramah di Purwakarta. Dia lantas mempelesetkan 'sampurasun' menjadi 'campur racun.' Sontak hal itu meletupkan perseteruan. Kalangan budayawan dan pendukung Dedi berang dan melaporkan Habib Rizieq ke polisi. Tak mau kalah, Syahid Kalja dari kelompok pengajian Manhajush Sholihin juga melaporkan balik Dedi dengan tuduhan penistaan agama. Setelah itu, kemelut itu hanya sayup-sayup terdengar.Lantas, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat menyatakan, laporan dugaan penistaan agama dilakukan Dedi dianggap tidak bisa disidik. Keputusan itu diambil pada 14 April lalu.Kelompok Manhajush Sholihin kemudian geram, karena laporan mereka dianggap tidak bisa diusut. Mereka menyatakan kekecewaan melalui media sosial Twitter.Melalui akun @Manhajusholihin, mereka menyampaikan sebelas protes. Mereka merasa keputusan Polda Jabar memberhentikan kasus penistaan agama diduga dilakukan Dedi sangat janggal. Mereka bahkan bakal menempuh upaya hukum lain, hingga terlontar pernyataan cukup keras melalui akun Twitter mereka."maka jangan salahkan umat jika besok umat tidak percaya lagi dg (dengan) polda dan langsung MENGGOROK Penista Agama di jalan! @DediMulyadi71," cuit akun Twitter @Manhajusholihin.Menurut Dedi, ancaman terhadap dirinya memang datang silih berganti. Jenisnya mulai dari ancaman pembunuhan, pengadangan, dan lainnya. Dia pun tak bisa menghindar dari hal itu."Saya melihat mereka melakukan pengadangan serius. Di Bandung Barat pernah dicegat puluhan orang. Di Garut di lempar pakai paku. Jadi (ancaman) bukan main-main tapi ngalamin langsung," tutup Dedi.

Rekomendasi