Amukan si jago merah meludeskan hampir seluruh lapak pasar malam arena Pesta Kesenian Bali (PKB) hampir mencelakakan para pedagang. Sebab, beberapa pedagang tidur di lapak dan terkejut ketika bangun melihat api sudah membesar.Informasi diperoleh dari Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Denpasar, Ardi Gangas mengatakan, kobaran api pertama kali dilihat oleh para pedagang yang tidur di lapaknya. Bahkan sejumlah pedagang sempat panik, lantaran tidak bisa keluar akibat terkunci dari luar."Benar, saat kebakaran terjadi, para pedagang yang tidur di lapaknya berteriak menendang-nendang pintu bagian barat Taman Budaya untuk meminta dibukakan pintu, karena memang pintu tersebut dikunci untuk menjaga keamanan setelah kegiatan di Taman Budaya selesai," kata Gangas, Jumat (1/7).Selain meludeskan gerai pedagang di Pasar Malam Banjar Kedaton dan stan kerajinan di sebelah barat gedung Ksirarnawa, gedung arsip Taman Budaya lantai dua juga kena imbas dari kebakaran tersebut. Belum bisa dipastikan penyebab terjadinya kebakaran. Namun, dugaan sementara akibat korsleting listrik. Terkait kerugian dari kejadian masih menunggu hasil olah TKP oleh polisi.Ditambahkan Gangas, proses pemadaman api dikerahkan sedikitnya 12 unit mobil pemadam kebakaran (Damkar), terdiri dari 8 unit mobil pemadam BPBD Kota Denpasar dan empat unit dari BPBD Kabupaten Badung. Terdata ada 20 stan dari 26 yang hangus.Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, juga menengok lokasi kebakaran. Dia menduga peristiwa itu dipicu semrawutnya sistem pemasangan listrik oleh sejumlah pedagang membuka lapak di wilayah banjar Kedaton, Denpasar.
Pastika mengatakan, lapak di pasar malam di Banjar Kedaton tersebut sangat padat, dan kemungkinan tidak memperhatikan aspek keamanan terkait instalasi listrik. Dikatakan Pastika, akan diadakan evaluasi terkait dengan bangunan-bangunan rawan terhadap kebakaran di sekitar area Taman Budaya, supaya kejadian itu tidak terulang."Ini mungkin mereka tidak memperhatikan aspek keamanan terkait listriknya. Saya dengar sambung menyambung listriknya. Kabelnya berseliweran dan tidak teratur. Ke depan harus kita atur, kita akan bantu atur, meskipun itu dari banjar yang mengelolanya," kata Pastika.