Jelang Lebaran puluhan produk pangan kedaluwarsa ditemukan di Bantul

Cemaran biologis ditemukan pada produk kemasan rusak. Misalnya, kemasan susu, kemasan produk makanan yang dimakan tikus.

Dede Rosyadi
Oleh Dede Rosyadi - Reporter
Jelang Lebaran puluhan produk pangan kedaluwarsa ditemukan di Bantul
Ilustrasi razia makanan kadaluarsa. ©2016 merdeka.com/mappesona

Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam inspeksi mendadak pengawasan keamanan pangan di pasaran menemukan puluhan produk pangan sudah kedaluwarsa. Puluhan produk pangan kedaluwarsa itu ditemukan di tujuh kecamatan, yaitu wilayah Kecamatan Banguntapan, Sewon, Bantul, Jetis, Kasihan, Sanden dan wilayah Kecamatan Kretek.

"Telah dilakukan sidak pengawasan keamanan pangan jelang Hari Raya Idul Fitri di beberapa kecamatan dan masih ditemukan produk pangan yang kedaluwarsa," kata Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Bantul, Bambang Agus Subekti di Bantul, Rabu (29/6).

Sedangkan sasaran menjadi kegiatan sidak, kata Bambang, antara lain warung dan toko kelontong di pasar tradisional, pasar Ngoto, jajanan takjil (menu berbuka puasa) di Pasar Bantul, Pasar Sorobayan Sanden dan toko serta warung kawasan Parangtritis.

Selain produk pangan kedaluwarsa, dalam sidak dilaksanakan pada 14 Juni sampai 16 Juni itu juga ditemukan produk makanan yang kemasan rusak, produk pangan mengandung borak, rhodamin B atau zat pewarna tekstil maupun formalin.

"Berbagai produk pangan yang tidak layak konsumsi itu kemudian disita petugas dengan izin dari pedagang, apabila tidak bersedia pedagang diisarankan produk itu dimusnahkan dan tidak dijual kembali," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Penyelenggaraan Regulasi Dinkes Bantul, Nitakrit mengatakan, pengawasan keamanan pangan selama Ramadan telah diintensifkan mengingat pasar tradisional, toko kelontong dan warung ramai pembeli seringkali kebersihan dan keamanan pangan kurang diperhatikan.

"Kegiatan pengawasan pangan bertujuan agar masyarakat atau konsumen mendapatkan pangan yang sehat, aman dari cemaran biologis, kimia dan fisik dalam mengkonsumsi sediaan pangan maupun siap saji," kata Bambang dikutip dari Antara.

Cemaran biologis bisa ditemukan pada produk kemasan rusak, misalnya kemasan susu maupun santan sudah jamuran, kemasan produk makanan dimakan tikus, roti basah sudah jamuran atau busuk.

Sedangkan bahan kimia biasa ditemukan pada produk mengandung bahan tambahan yang tidak diperbolehkan, seperti rhodamin B atau pewarna kain pada kolang-kaling dan lempeng. Sementara bahan formalin biasa ditemukan pada mie kuning basah dan teri nasi.

"Pengawasan pangan ini rutin dilakukan setiap bulan sesuai jadwal wasdal (pengawasan dan pengendalian). Namun untuk jelang hari raya ini lebih intensif dan langsung meneliti satu per satu produk makanan, kalau sehari-hari lebih ke pengawasan dan penyuluhan," pungkasnya.

Rekomendasi