Kejanggalan sikap RS Harapan Jayakarta jelang persalinan Raudiah

"Saya dikasih pinjam dua baju bayi, dua tempat tidur dan langsung dikasih papan nama bayi atas nama saya dua."

Henny Rachma Sari
Oleh Henny Rachma Sari - Reporter
Kejanggalan sikap RS Harapan Jayakarta jelang persalinan Raudiah
Keluarga Raudiah datangi Komnas PA. ©2016 Merdeka.com

Malang nian nasib Raudiah Elvani, perempuan berusia 37 tahun ini yakin betul diri melahirkan bayi kembar, pada 8 Mei 2016 lalu di RS Harapan Jayakarta. Sayangnya, ia harus menelan pil pahit mendapati bayi yang ia lahirkan melalui operasi sesar itu hanya satu bayi perempuan dengan berat 3,2 kg dan panjang 49 cm.

Padahal, ketika dirinya melakukan pengecekan lewat USG saat kandungan berusia 5 dan 7 bulan hasilnya anak yang ia kandung kembar berjenis kelamin perempuan.

Kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Raudiah pun mengadukan peristiwa yang ia alami. Ia menceritakan bagaimana mencurigakannya perilaku pihak RS jelang persalinannya.

Ibu yang telah melahirkan empat anak itu mengaku merasakan kejanggalan pada dirinya sejak sebelum operasi dilakukan. Semula dirinya dijadwalkan akan menjalani operasi sesar pada pukul 13.00 WIB. Namun, operasi itu dipercepat menjadi pukul 09.00 WIB. Saat dia menanyakan alasan percepatan jadwal operasi, pihak rumah sakit melalui bidan yang bernama Sri menjelaskan karena dokter anestesi hanya ada satu.

"Bidan Sri bilangnya dokter anestesi cuma satu, kalau nanti siang takut dokternya keburu pulang," tutur Raudiah meniru penjelasan Bidan Sri yang menanganinya sejak awal.

Sebelum menjalani operasi, Raudiah sempat menolak menandatangani surat pernyataan operasi. Sebab, sang suami yang berhak atas surat tersebut belum datang. Tak hanya itu dia juga mengatakan pada Bidan Sri bahwa keluarganya pun belum datang membawa perlengkapan bayi. Namun pihak rumah sakit memberikan solusi dengan meminjamkan perlengkapan bayi milik rumah sakit.

"Saya dikasih pinjam dua baju bayi, dua tempat tidur dan langsung dikasih papan nama bayi atas nama saya dua," tuturnya.

Akhirnya, Raudiah dengan berat hati mendatangi surat pernyataan menjalani operasi lantaran didesak oleh pihak rumah sakit tanpa menunggu kedatangan suami maupun keluarganya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait pemeriksaan yang dilakukan oleh dr. Zainuri sebelum melahirkan, Raudiah membantah. Sebab, dirinya hanya mengenal Zainuri sesaat sebelum melahirkan. Pemeriksaan yang dilakukan Zainuri hanyalah sebatas menanyakan identitas belaka.

"Tindakan dari dokter Zainuri cuma memeriksa nama, terus nyuruh saya nungging da ngasih suntikan saja, enggak lebih dari itu," ujar Raudiah.

Ironinya, dalam kondisi masih lemah pasca melahirkan, Raudiah menanyakan keberadaan anaknya yang satu lagi. Bukannya jawaban, ia malah dibentak oleh asisten dokter.

"Sesaat saya melahirkan saya dikasih tahu bayinya cuma satu. Saya langsung tanya kenapa satu, tapi saya malah dibentak, orang bayinya cuma satu, dua dari mana," kenangnya.

Rekomendasi