Momentum bulan Ramadan dan Idul Fitri acapkali dimanfaatkan oleh para pengemis dadakan datang ke Ibukota Jakarta dan sekitarnya. Para pengemis musiman ini seakan memanfaatkan ibadah para umat yang tengah berpuasa untuk meminta belas kasihan sehingga pundi-pundi rupiah bisa mengalir ke dalam kantong mereka.
Seakan sudah menjadi langganan di saat lebaran tiba, para pengemis terlihat di sepanjang jalan protokol, bahkan ada yang membawa gerobak beserta anak kecil untuk mendapatkan uang dari belas kasihan orang yang lewat.
Tak tangung-tanggung, para pengemis dadakan ini datang dari berbagai daerah. Penghasilannya cukup menggiurkan, hal ini yang membuat mereka tidak kapok meski beberapa kali ditangkap petugas. Bahkan pemerintah setempat dibuat kewalahan.
Di Kota Bekasi tercatat jumlah pengemis pada Ramadan 2016 meningkat 50 persen dari tahun lalu. Para pengemis itu merupakan pengemis musiman sengaja datang dari kampung halamannya memanfaatkan bulan Ramadan.
Kepala Bidang Pelayanan PMKS pada Dinas Sosial Kota Bekasi, Iwan Janewanto mengatakan, berdasarkan pantauan pemerintah daerah Kota Bekasi, pengemis musiman mulai memadati sejumlah jalan protokol di Kota Bekasi. Misalnya, Jalan M Hasibuan, Joyomartono, Juanda, KH Noer Ali, Chairil Anwar, Kartini, serta Dewi Sartika.
"Mereka tampak asing, karena tidak seperti biasa yang mangkal di pinggir jalan," kata Iwan di Bekasi.
Menurutnya, untuk mengantisipasi semakin membludaknya jumlah pengemis di wilayah setempat, pihaknya bekerjasama dengan Satpol PP Kota Bekasi untuk melakukan razia rutin dua kali dalam sepekan.
"Pengemis yang terjaring razia akan segera dibina, selama enam hari. Selanjutnya, mereka pun akan dipulangkan ke daerah asal," tegas Iwan.
Kepala Bagian Penegakan Hukum Satpol PP Kota Bekasi, Deddy Supriadi mengatakan, penertiban pengemis dan gelandangan selama Ramadan tidak mudah. Sebab, hanya beberapa hari setelah terjaring razia, mereka sudah kembali lagi ke jalanan.
"Mereka tidak pernah merasa kapok, usai dirazia dibina, lalu kembali lagi ke jalan," keluh Deddy.
Maman (43), seorang pengemis asal Sukabumi, sengaja datang ke Kota Bekasi untuk mencari uang dari para pemberi sedekah di wilayah setempat. Selama lima hari di wilayah tersebut, dia sudah mampu mengumpulkan uang lebih dari Rp 500 ribu.
"Saya mengajak istri untuk menjadi manusia gerobak. Pekerjaan di kampung kurang mendapatkan banyak penghasilan," kata pria yang biasa menjadi kuli panggul di pasar di Sukabumi ini.
Maman mengaku sudah 10 tahun menjadi pengemis musiman di sejumlah kota-kota besar. Dalam sebulan selama Ramadan, biasanya meraup uang Rp 4-5 juta. Uang itu didapat dari orang yang memberikan sedekah di jalan.
Advertisement
Begitu juga di Solo, para pengemis dadakan berbondong-bondong datang saat Ramadan tiba. Puluhan bahkan ratusan pengemis menyerbu ke perkampungan di seluruh penjuru kota.
Mengantisipasi hal itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP Solo terus berkeliling gelar razia. Mereka mewaspadai membeludaknya pengemis dadakan yang tak hanya menyerbu perkampungan, tapi juga kawasan pusat keramaian kota, seperti mal dan pertokoan.
"Kami sudah memetakan lokasi rawan kemunculan pengemis dadakan selama Ramadan. Di antaranya kawasan pertokoan di Jalan Kapten Mulyadi Kecamatan Pasar Kliwon, Gading, kawasan Coyudan, hingga Pasar Singosaren, Solo Grand Mal (SGM), Pasar Klewer, Pusat Grosir Solo (PGS), Benteng Trade Center (BTC), pasar tradisional serta lingkungan perkampungan warga," kata Kepala Satpol PP Solo, Sutarjo.
Sutarjo berjanji memperketat pengawasan di lokasi rawan pengemis dadakan. Yakni dengan mengerahkan puluhan tenaga perlindungan masyarakat (Linmas) di lokasi rawan. Dia mengaku telah menerima banyak laporan dari warga yang resah akan keberadaan para pengemis.
"Sudah banyak warga yang lapor. Mereka, para pengemis itu sering berkeliaran dari rumah ke rumah warga," terang Sutarjo.
Sutarjo melanjutkan, para petugas akan mengamankan pengemis jika mereka kedapatan meminta-minta kepada warga. Selanjutnya, para pengemis akan dibawa ke kantor Satpol PP, kemudian dipulangkan ke daerah asal.
Advertisement
Kementerian Sosial mencatat sekitar 5.000 pengemis musiman masuk ke wilayah DKI Jakarta ketika masuk bulan Ramadan. Kebanyakan pengemis musiman itu berasal dari Jawa Barat, sebagian dari kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa, Jawa Timur dan dari Lampung.
"Dari pengalaman tahun-tahun lalu, penambahan pengemis musiman tinggi, bisa sampai 5.000 yang masuk ke Jakarta menjelang puasa," kata Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Kemensos Sonny W Manalu.
Menurutnya, penanganan pengemis musiman itu memerlukan cara yang represif melibatkan aparat Satpol PP dan kepolisian karena kadang keberadaan mereka meresahkan.
"Caranya mereka harus dipulangkan paksa. Kita sudah lakukan ini misalnya Pemda DKI Jakarta memulangkan mereka dengan bus saat puasa dan kita bantu itu," tandasnya.
Para pengemis musiman itu biasanya berkumpul di sekitar masjid yang tempat orang banyak beribadah dengan harapan mereka memberikan sedekah.
Menurut Sonny, penanganan pengemis musiman seharusnya dilakukan dari hulu yaitu dari daerah asal mereka.
Pemerintah daerah asal seharusnya melakukan pencegahan misalnya dengan membuat program padat karya menjelang Ramadan, sehingga warganya tidak ada yang pergi ke daerah lain untuk mengemis.
Dengan padat karya, pemda menyiapkan lapangan kerja mencegah mereka mengemis di daerah lain. Beberapa daerah sudah menerapkan itu tapi tidak berpengaruh signifikan.
"Karena memang ada beberapa daerah yang kulturnya seperti itu, bahkan ada yang orang tuanya memang mendukung. Kita tahu karena mereka ini berkelompok dan ada satu keluarga yang mengemis," pungkasnya.