Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, mencatat jumlah pengemis di wilayahnya naik hingga 50 persen selama Ramadan 2016. Para pengemis itu merupakan pengemis musiman sengaja datang dari kampung halamannya memanfaatkan momentum Ramadan.
Kepala Bidang Pelayanan PMKS pada Dinas Sosial Kota Bekasi, Iwan Janewanto mengatakan, berdasarkan pantauan pemerintah daerah Kota Bekasi, pengemis musiman mulai memadati sejumlah jalan protokol di Kota Bekasi. Misalnya, Jalan M Hasibuan, Joyomartono, Juanda, KH Noer Ali, Chairil Anwar, Kartini, serta Dewi Sartika.
"Mereka tampak asing, karena tidak seperti biasa yang mangkal di pinggir jalan," kata Iwan di Bekasi, Senin (13/6).
Menurutnya, untuk mengantisipasi semakin membludaknya jumlah pengemis di wilayah setempat, pihaknya bekerjasama dengan Satpol PP Kota Bekasi untuk melakukan razia rutin dua kali dalam sepekan.
"Pengemis yang terjaring razia akan segera dibina, selama enam hari. Selanjutnya, mereka pun akan dipulangkan ke daerah asal," tegas Iwan.
Kepala Bagian Penegakan Hukum Satpol PP Kota Bekasi, Deddy Supriadi mengatakan, penertiban pengemis dan gelandangan selama Ramadan tidak mudah. Sebab, hanya beberapa hari setelah terjaring razia, mereka sudah kembali lagi ke jalanan.
"Mereka tidak pernah merasa kapok, usai dirazia dibina, lalu kembali lagi ke jalan," keluh Deddy.
Maman (43), seorang pengemis asal Sukabumi, sengaja datang ke Kota Bekasi untuk mencari uang dari para pemberi sedekah di wilayah setempat. Selama lima hari di wilayah tersebut, dia sudah mampu mengumpulkan uang lebih dari Rp 500 ribu.
"Saya mengajak istri untuk menjadi manusia gerobak. Pekerjaan di kampung kurang mendapatkan banyak penghasilan," kata pria yang biasa menjadi kuli panggul di pasar di Sukabumi ini.
Maman mengaku sudah 10 tahun menjadi pengemis musiman di sejumlah kota-kota besar. Dalam sebulan selama Ramadan, biasanya meraup uang Rp 4-5 juta. Uang itu didapat dari orang yang memberikan sedekah di jalan.