Rencana sudah disusun buat Selasa (10/5) pagi kemarin mendadak buyar. Aparat gabungan sempat kocar-kacir lantaran warga Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang mendadak mengamuk.Petugas gabungan terdiri dari Satpol PP, Polri dan TNI mendatangi kawasan Dadap buat menyampaikan surat peringatan kedua (SP2). Bangunan di tempat itu bakal digusur.Saat mereka menggelar apel, warga langsung menyerang. Petugas gabungan terkejut dan berhamburan. Sebab, di antara warga ada yang membawa senjata tajam, bom molotov, serta melempari petugas dengan batu. Namun, aksi itu dibalas aparat keamanan dengan tembakan gas air mata.Usai menyerang, warga kembali ke dalam perkampungan sambil bersiap mengadang aparat masuk ke pemukiman mereka."Kami sudah tidak gentar dengan kekuatan aparat. Kami butuh keadilan. Jangan kami digusur untuk kepentingan swasta," teriak seorang warga.Warga semakin beringas dan menyebabkan sebuah mobil Toyota Rush berwarna putih terparkir di sekitar lokasi rusak. Kaca kendaraan itu pecah."Woi pergi, enggak usah ganggu ketenangan kami," teriak warga sembari terus melempar batu.Saat petugas menembakkan gas air mata buat membubarkan massa, terlihat para ibu membawa anak-anaknya ke tempat yang lebih aman. Mereka menjauh ke arah jalan utama Dadap.Tak hanya mengancam Polisi, TNI, dan Satpol PP, warga juga meminta wartawan tidak mengambil gambar."Ngapain lu pada foto-foto, orang lagi pada kesusahan," ucap warga sembari menghunuskan golok.Buat mencegah warga semakin beringas, polisi sempat menerjunkan membawa dua unit mobil meriam air ke lokalisasi Dadap. Mobil itu tiba sekitar pukul 16.00 WIB, ditempatkan di Jalan Kali Perancis. Masyarakat juga melakukan aksi bakar ban tepat di depan pintu masuk lokalisasi.
Advertisement
Dalam bentrokan tersebut, dua petugas kepolisian mengalami luka di kepala akibat terkena lemparan batu. Keduanya adalah Mulya Aditya (19), dan Harmoko (21), petugas berpangkat Bripda yang bertugas di Polda Metro Jaya. Mereka langsung dibawa ke klinik terdekat.Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti, juga mendatangi lokasi kerusuhan warga Dadap. Namun, kehadirannya malah memancing amarah warga yang memilih melemparinya dengan batu.Krishna nekat mendatangi kerumunan warga yang sedang emosi. Dia berjalan kaki seorang diri tanpa didampingi siapapun. Setelah dilempari dengan batu, para polisi langsung maju mendekati Krishna.Meski demikian, Krishna meminta para polisi itu tetap pada barisannya. Beruntung batu dilempar warga tidak ada yang mengenainya. Krishna tetap mendekati kerumunan warga yang sudah melengkapi diri dengan senjata tajam. Dia mengajak warga berdialog. Tak lama kemudian, Krishna akhirnya ditemani sejumlah perwira, termasuk Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Irman Sugema.Setelah bernegosiasi, akhirnya warga Dadap menghentikan aksinya dengan sejumlah syarat. Perundingan itu dilakukan oleh Krishna Murti, didampingi Kapolres Metro Tangerang, Kombes Pol Agus Pranoto, dengan ratusan warga Dadap.Warga Dadap, Kabupaten Tangerang, mendesak Pemkab Tangerang membatalkan pemberian surat peringatan kedua, terkait rencana penggusuran.
Advertisement
"Mereka ingin SP2 dibatalkan, aparat gabungan Polisi, TNI dan Satpol PP ditarik mundur. Dan melepaskan dua warga yang ditahan karena sempat menyerang petugas saat aksi tadi," kata Agus.Atas permintaan warga, polisi pun menurutinya. Warga kemudian membubarkan diri."Saya jamin mereka akan kita lepaskan dan personel akan ditarik mundur," ujar Agus.Terkait SP2, menurut Agus hal itu menjadi kewenangan Pemkab Tangerang. Polisi, lanjut dia, hanya melakukan pengamanan."Itu diserahkan ke Pemkab Tangerang," imbuh Agus.Krishna meminta polisi membubarkan barikade dan membuka jalan bagi warga. Dia juga sempat memerintahkan petugas Satpol PP untuk pulang."Sudah Satpol PP pulang saja, kalian juga enggak bisa ngapa-ngapain kan," kata Krishna.Menanggapi perlawanan warga Dadap, Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, membantah tudingan warga soal tidak pernah dilibatkan dalam rencana pembangunan setelah mereka digusur."Tudingan itu tidak mendasar. Kami telah mensosialisasikan sejak jauh-jauh hari dan bahkan melibatkan warga," kata Zaki.Penertiban kawasan kumuh, kata Zaki, juga tidak hanya terjadi di Dadap. Dia juga menyangkal penggusuran bukan atas dasar kepentingan swasta."Penertiban kawasan kumuh juga terjadi di Kronjo dan Kresek serta sejumlah wilayah lain, jadi tidak hanya di Dadap," tutup Zaki.