Tabir kematian Feby di kampus biru

Kasus itu masih tertutup. Polisi belum mau banyak bicara.

Aryo Putranto Saptohutomo
Tabir kematian Feby di kampus biru
Ibu mahasiswi korban pembunuhan di UGM. ©2016 merdeka.com/kresna

Usai hiruk pikuk aksi unjuk rasa pada Hari Pendidikan Nasional, Senin (2/5), Universitas Gadjah Mada mendadak geger. Seorang mahasiswi ditemukan tewas di kampus biru itu.Seorang mahasiswi Geofisika UGM angkatan 2015, Feby Kurnia, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di dalam toilet gedung S2 dan S3 Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM, Senin (2/5) malam. Dia diketahui berasal dari Batam, Kepulauan Riau.Nurcahaya Ningsih (48), ibu mendiang Feby Kurnia mengaku anaknya tidak pernah punya masalah. Selama ini, dia merasa anaknya tidak pernah curhat ada masalah padanya atau pun teman-temannya."Anak saya tidak ada masalah. Saya temui temannya tanya, enggak ada masalah, enggak pernah cerita apa-apa," kata Nurcahaya kepada wartawan di RSUP dr. Sarjito.Kecurigaan Nurcahaya muncul ketika anaknya tidak mengangkat teleponnya. Almarhum Feby hanya membalas melalui pesan singkat saja."Tanggal 29 April itu saya telepon tidak diangkat. Tapi balas sms, bilang kalau sedang sibuk menggarap tugas di kos teman," ujar Nurcahaya.Hanya saja, saat beberapa kali berbalas pesan singkat, Nurcahaya merasa curiga dengan bahasa digunakan anaknya. Menurutnya, bahasanya tidak sama seperti biasa, seperti penyebutan nama. Feby selalu menyebut namanya lengkap, tidak pernah menyingkat dengan 'Pb'."Enggak pernah Pb, ini saya merasa aneh," ucap Nurcahaya.

Kejanggalan lainnya, lanjut Nurcahaya, yaitu ketika tiba-tiba Feby mengirimkan pesan memintanya tidak perlu khawatir dan selalu menjaga kesehatan."Feby enggak pernah sms begitu. Karena curiga itu, saya kemudian langsung ke Yogya Sabtu kemarin. Ternyata Febi juga tidak ada di kos," tutup Nurcahaya.Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Kombes Hudit Wahyudi mengatakan, mendiang Feby sempat dilaporkan hilang selama empat ke Polsek Mlati. Namun, saat ditemukan dia justru sudah meninggal."Korban ditemukan oleh keamanan kampus sekitar pukul 18.00 WIB. Setelah itu kita langsung datangi. Memang sebelumnya ada laporan katanya hilang dibawa orang," kata Hudit kepada merdeka.com.Dari olah tempat kejadian perkara dilakukan polisi, terlihat bekas jeratan pada leher korban. Polisi pun menduga kematian korban karena dibunuh."Kondisi jenazah sudah membusuk. Dugaan sementara dibunuh. Ini masih dugaan," ucap Hudit.Untuk memastikan penyebab kematian, polisi pun masih menunggu hasil otopsi dokter. Sebab jenazah sudah membusuk sehingga sulit di identifikasi.


"Kita masih menunggu hasil otopsi, nanti akan segera kami beritahu," lanjut Hudit.

Tim dokter forensik RSUP dr Sardjito menyatakan telah mengautopsi jenazah Feby. Namun demikian, proses autopsi masih membutuhkan sejumlah pemeriksaan penunjang.Menurut ketua tim dokter forensik, Ida Bagus Gede Surya Putra Pidada, pemeriksaan penunjang mencakup pemeriksaan patologi buat mengetahui ada atau tidaknya penyakit, serta toksikologi buat mengetahui ada atau tidaknya kandungan racun di dalam tubuh korban."Hasilnya (pemeriksaan penunjang) kemungkinan baru dapat diketahui satu hingga dua minggu lagi," kata Putra.Menurut Putra, dari proses autopsi kemarin, tim tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh Feby."Belum dapat dipastikan penyebab kematian. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh," ujar Putra.Terkait dugaan luka jeratan dari informasi polisi, menurut dia hal itu merupakan lipatan kulit seolah-olah seperti bekas jeratan, karena kondisi jenazah yang telah membusuk.

Rekomendasi