DPD meminta pemerintah untuk memperhatikan perkembangan terbaru dari warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban bom di Brussels, Belgia. Selain itu, mereka juga perlu mendata secara pasti jumlah korban jiwa dari WNI atas kejadian tersebut.
"Volume bom yang cukup besar dan tersebar, membuka peluang jatuhnya korban lebih banyak baik yang meninggal maupun terluka. Langkah sigap dan komunikasi yang efektif diperlukan pihak Kedutaan Besar Indonesia di Brussels agar segera dapat memastikan jumlah WNI yang menjadi korban," ujar Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad.
Dia menambahkan, bom Brussels terjadi dalam suasana ruang publik di jam sibuk. Situasi ini menjadi salah satu faktor yang telah diperhitungkan oleh pelaku agar dampaknya mampu menjatuhkan banyak korban.
Ia juga Farouk melihat, sasaran utama pelaku teror bukanlah menghancurkan fasilitas publik semata dan ancaman bagi negara, namun juga mengirimkan rasa takut dan cemas ditengah-tengah masyarakat.
Senator asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menjelaskan, jika diperhatikan pola teror bom ini tidak hanya terkonsentrasi pada satu titik. Oleh karenanya, Ia menyarankan agar pemerintah memastikan bahwa di kedua tempat peledakan bom, tidak ada lagi WNI yang menjadi korban.
"Kejadian Bom ini tentu saja bagi kita di Indonesia, seakan memantik pengalaman kelam bom sarinah. Bahwa teror bom dapat terjadi dimana dan kapan saja, secara beruntun" jelasnya.
Dengan adanya kejadian itu, lanjut Farouk, bisa menjadi peringatan kepada aparat keamanan Indonesia untuk terus menjaga kewaspadaan yang tinggi.
Dikabarkan, WNI menjadi korban luka akibat ledakan bom di Bandara Zaventem, Belgia pada Selasa (22/3). Korban diketahui seorang wanita bersama kedua anaknya.
Menurut informasi dari Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, wanita tersebut berada di Bandara Zaventem karena tengah menanti waktu boarding ke dalam pesawat. Dia dan kedua anaknya berencana kembali ke Indonesia dari berlibur.