Pascarukyah massal warga kampung Merancang Ulu, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Senin (21/3), aktivitas masyarakat kampung berangsur normal. Warga berharap, isu tumbal 41 nyawa, tidak lagi berembus di tengah mereka."Alhamdulillah dua hari ini setelah rukyah, aktivitas kampung ini berangsur kondusif. Meski belum benar-benar normal," kata Kepala Kampung Merancang Ulu Andi Marpai kepada merdeka.com, Rabu (23/3).Sebelum dilakukan rukyah, warga sempat dilanda kekhawatiran dengan isu tumbal nyawa, sehingga lebih memilih berada di dalam rumah di malam hari."Sekarang juga, berangsur-angsur normal lagi di malam hari. Ya itu, belum benar-benar normal, Pak," ujar Andi.Merebaknya isu tumbal 41 nyawa, memang sempat bikin resah warga. Dua warga Merancang Ulu, sempat didatangi aparat kepolisian bersama tokoh masyarakat, lantaran mencuatnya tudingan kedua warga itu, melakukan ilmu hitam. Saat itu, kepolisian meminta kedua warga itu, bersabar menyusul mencuatnya tudingan sebagai dukun santet."Sekarang juga sudah kondusif. Artinya, tidak terbukti (kedua warga itu melakukan ilmu santet). Apalagi sudah disampaikan secara jelas, penyebab meninggalnya 10 warga saya karena sakit," terang Andi."Pemerintah daerah, sebagaimana disampaikan Wakil Bupati (Agus Tantomo), kita tidak boleh percaya ilmu hitam, yang tidak bisa dibuktikan secara hukum," tambahnya.Namun demikian, lanjut Andi, apabila nantinya di kemudian hari, kembali mencuat isu santet meminta tumbal 41 nyawa warga kampung, Andi kembali akan melakukan koordinasi bersama dengan pemkab Berau."Kalau muncul lagi isu-isu itu, Insya Allah kami berupaya meredam, juga sudah diupayakan melalui rukyah. Kalau muncul lagi isu-isu yang tidak kami harapkan, kami akan konsultasikan lagi kepada pemerintah daerah," jelasnya.Diketahui, awalnya 10 warga Merancang Ulu, meninggal diduga usai kesurupan. Mencuat isu di tengah masyarakat, meninggalnya 10 warga itu disebabkan tumbal nyawa 41 orang warga kampung Merancang Ulu. Terlebih lagi, Dinas Kesehatan Berau, sempat menyatakan meninggalnya warga, tidak bisa dianalisa secara medis kedokteran.Kepolisian pun bergerak cepat meredam keresahan warga. Bersama pemkab Berau dan unsur muspida, Senin (21/3) lalu, melakukan rukyah massal. Sebagian dari masyarakat pun muntah-muntah, usai diperdengarkan Al Quran. Kepolisian pun melansir, berdasarkan keterangan puskesmas Gunung Tabur, 10 warga yang meninggal sejak Desember 2015 hingga Maret 2016, memiliki rekam medis. Kesepuluh warga, meninggal lantaran menderita sakit.
Usai dirukyah massal, aktivitas warga Berau berangsur normal
Warga setempat sempat dilanda kekhawatiran dengan isu tumbal nyawa.
Advertisement
Rekomendasi