Kisah miring hari pertama kepala daerah baru

Pasha marah-marah karena saat apel perdananya banyak bawahannya yang tertawa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kisah miring hari pertama kepala daerah baru
pasha dan adelia. ©2016 instagram.com/adeliapasha

Sebagian kepala daerah baru yang resmi dilantik Rabu lalu, semangat menjalankan tugas pada hari pertama Kamis (18/2). Mereka langsung tancap gas guna menunjukkan kepada masyarakat sebagai pemimpin yang amanah.Tapi di balik itu, terselip kisah miring yang menghampiri para kepala daerah baru di hari pertama masa kerjanya. Hal ini pun tak pelak menjadi perhatian warga lantaran kinerjanya baru saja dimulai.Seperti yang ditunjukkan oleh Wakil Bupati Kota Palu, Sigit Purnomo alias Pasha Ungu. Dalam apel perdananya, mantan vokalis band Ungu ini marah-marah terhadap bawahannya.Dia marah karena banyak anak buahnya tertawa saat mengikuti apel tengah dipimpin olehnya. "Apa motif saudara-saudara tertawa saat saya memasuki mimbar upacara!," tanya Pasha saat memberikan sambutan.Saat upacara berlangsung, Pasha sempat melakukan kesalahan kecil. Ketika menerima laporan komandan upacara bahwa upacara siap dilaksanakan. Pasha malah menjawab dengan kata 'laksanakan', yang seharusnya 'lanjutkan', sehingga peserta upacara terdengar kembali tertawa.Dia tak terima dengan sikap para bawahannya tersebut yang seolah-olah tidak menghargainya sebagai pemimpin apel. Padahal, upacara ini merupakan pengalaman pertama bagi Pasha. "Apa motif saudara-saudara tertawa terbahak-bahak. Saya malu karena ada yang tertawa terbahak-bahak saat saya masuk. Next, saya tidak mau ini terulang lagi. Polisi Pamong Praja harus mengecek yang tertawa itu !. Jelas?...Jelas?...Jelas?," pinta Pasha.Pasha juga minta agar seluruh pegawai bisa menghargai orang, dan bisa menghargai jabatan."Attitude harus ada, bagaimana membawa diri dengan baik dan benar. Anda semua memakai baju Korpri. Percuma sumpah Korpri tadi dibacakan kalau begini attitude pegawai," ujarnya.Pada upacara tersebut, bapak enam anak itu membacakan sambutan tertulis Menteri Tenaga Kerja. Pasha yang mengenakan kemeja Korpri lengan panjang dipadu celana hitam model botol sejenis jeans dan berkopiah hitam memulai sambutannya dengan mengatakan, "mohon maaf, sebelum saya membacakan sambutan tertulis bapak menteri, saya perlu mengemukakan hal-hal ini".Beberapa aparatur sipil negara yang mengikuti upacara tersebut memberikan reaksi berbeda atas reaksi emosional Wakil Wali Kota saat memimpin upacara tersebut."Beliau seharusnya menyadari bahwa status beliau sebagai figur publik masih terus melekat, dan ini adalah kesempatan pertama beliau berhadapan dengan pegawai di Pemkot. Nah, banyak sekali pegawai di sini yang baru pertama kali melihat wajahnya secara langsung, sehingga spontan menyambut dengan tawa karena gembira saat beliau pertama kali naik podium," kata seorang PNS senior.Sementara seorang pegawai lainnya menyambut baik ekspresi emosional Pasha, buat memberikan peringatan agar berdisiplin dalam mengikuti acara-acara resmi."Hanya seyogyanya, teguran seperti ini hendaknya disampaikan tidak dengan nada keras dan emosional seperti itu. Kan bisa dikemukakan dengan ucapan yang lebih halus tanpa harus teriak-teriak di mikropon," kata pegawai tersebut yang disambut anggukan rekan-rekannya.

Di daerah lain, Bupati dan Wakil Bupati Karawang Cellica Nurrachdiana-Ahmad Zamakhsyari mesti mengelus dada di hari pertama kerjanya. Sebab, mereka didemo oleh mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Karawang.Mereka mendemo untuk menolak wacana mengalihfungsikan Rumah Dinas Bupati (RDB) menjadi taman budaya."Kalau mau ingin melestarikan budaya, ya di kampung budaya. Kan memang itu sudah tempatnya. Jangan takut sama mitos. Lantas pelestarian budaya dijadikan alasan. Tidak elegan itu," kata koordinator aksi, Ito Takawada.Mahasiswa menyatakan menolak keras pengalihfungsian RDB dengan alasan apapun. Apalagi menurutnya, alasan Bupati Karawang tidak ingin menempati fasilitas negara tersebut hanya takut dengan mistis."Mistis jangan dijadikan alasan, tidak logis. Apalagi beliau seorang dokter. Kalau percaya siluman ular bisa bikin jabatan Bupati tidak bisa bertahan lama itu kan aneh," ujar Ito.Para mahasiswa mencurigai anggaran dari wacana akan dialihfungsikannya RDB. Terlebih kata dia, Pemerintah Kabupaten Karawang harus membangun satu rumah dinas baru jika wacana alih fungsi RDB disetujui."Kalau Cellica tidak mau menempati Rumah Dinas, maka dia akan tinggal di rumah dinas Wakil Bupati. Kemudian Wakil Bupati akan menempati rumah dinas sekda. Jadi sekda pun harus dibuatkan rumah dinas baru. Kami curiga pasti ada apa-apanya karena anggarannya pasti miliaran," ujarnya.Katanya, ada sektor lain yang lebih penting dibenahi dibandingkan harus merotasi tempat yang bakal menghabiskan banyak anggaran."Pembangunan itu harus melihat skala prioritas. Karena Karawang sendiri masih banyak sekolah rusak, kekurangan kelas. Jalan-jalan di desa juga masih banyak yang rusak. Kalau mau bangun, ya sektor itu dulu yang dibenahi," imbuh Ito.

Rekomendasi