Ironis jika melihat kondisi seorang wanita renta berumur 80 tahun yang tinggal di gubuk tak layak huni di Banjar Taman Sari, Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Tabanan Bali. Dalam kondisi tak bisa berjalan, Ni Wayan Lembuk hidup bersama anak wanitanya di sebuah gubuk bekas kandang sapi. Di tengah guyuran hujan, Lembuk terus berteriak kesakitan sambil menangis menahan rasa nyeri pada kakinya yang patah. Tidak hanya itu, nampak di sebuah Bale dan lantai tanah yang becek karena banyak titik air hujan jatuh dari atap yang bocor.Ironisnya, dalam kondisi yang tak berdaya ini dia tinggal bersama anaknya yang dalam kondisi keterbelakangan mental."Selama ini saya masih bisa cari-cari duit untuk makan. Sejak kaki patah 6 bulan lalu, hanya bisa tidur saja tidak bisa ke mana mana. Anak saya buduh (gila)," keluh Lembuk dengan menggunakan bahasa Bali, di Tabanan, Senin (15/2).Kakinya patah tertabrak mobil saat pulang dari berjualan. Kini dia dan anaknya hanya bergantung hidup dari beras raskin, serta uluran tangan warga sekitar.Gubuk berbahan ranting-ranting pepohonan yang ditempatinya ini berada di areal pinggiran persawahan bekas tempat kandang sapi."Ini dulunya bekas kandang sapi, tanahnya ini milik dokter namanya Pak Anak Agung Subawa. Ibu Lembuk hanya numpang di sini," ungkap Made Putera, salah seorang petani warga setempat.Katanya, Lembuk bersama anaknya yang gangguan jiwa tinggal sudah hampir 10 tahun. "Dia tidak punya sanak saudara di sini, hanya bersama anaknya saja. Tetapi gangguan jiwa anaknya tidaklah parah sampai mengamuk," tuturnya.Gubuk yang ditempati Lembuk, sangatlah kotor dan bau. Selain bau pesing juga bau kotoran manusia bercampur dengan kotoran hewan. Maklumlah, berjarak lima meter dari gubuknya juga ada kandang kambing.Ironisnya, dia tergolek di atas kasur kusam dan basah dan bau tengik. "Dulu saat masih bisa jalan, saya sehari-hari jual porosan (bahan untuk sembahyangan) dapat sehari Rp 5.000 kadang Rp 7.000, dan setelah ditabrak enam bulan yang lalu saya tidak berjualan lagi," lirihnya.Dinas Banjar Taman Sari I Putu Artana saat dikonfirmasi mengaku sangat prihatin terhadap warganya, Ni Wayan Lembuk. Akunya, pihak desa selalu memprioritaskan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah."Selalu mendapat prioritas untuk bedah rumah, tapi terkendala lahan yang bukan milik pribadi, tapi kami masih berkoordinasi dengan pemilik lahan apakah lahannya bisa dihibahkan atau tidak," jawabnya.
Sudah lama nenek Lembuk lumpuh dan tinggal di bekas kandang sapi
Nenek Lembuk tinggal bersama anak perempuannya yang keterbelakangan mental. Tiap hari dia hanya menjerit menahan sakit.
Rekomendasi