Pemulangan gelombang kedua warga Sulawesi Selatan (Sulsel) mantan pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) melalui jalur udara tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sabtu (30/1) pukul 07.31 WITA dengan menumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 661 setelah sebelumnya lepas landas dari bandara Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.Mereka berjumlah 49 dari 17 Kepala Keluarga (KK), di antaranya ada 16 orang anak-anak dan bayi. Semula mereka berdiam di Kabupaten Samarinda, Kalimantan Timur. Eks Gafatar diantar unsur TNI dari 0901/ Samarinda dan dari Polresta Samarinda, Kepala Kesbangpol Kaltim, Yuda Pranoto dan Kepala Kesbangpol Samarinda, Erham Yusuf. Dari bandara ini mereka dijemput satu bus besar diantar ke Asrama Haji Sudiang.Kepala Kesbangpol, Yuda Pranoto saat penyerahan mengatakan, pihaknya turut prihatin dengan kegiatan pemulangan warga ini. Tetapi menurutnya, ada pelajaran yang bisa dipetik oleh semua orang terkhusus bagi warga mantan pengikut Gafatar."Pelajaran yang bisa kita petik adalah bahwa segala sesuatu yang tidak diakui oleh negara jika dilakukan pasti ada konsekuensinya. Olehnya mari kita kembali ke jalan yang benar, sama-sama menjaga kondusifitas daerah khususnya di Sulsel sebagai tempat pulang," kata Yuda Pranoto.Ditambahkan, warga mantan pengikut Gafatar ini adalah masih saudara kita semua olehnya kepada Pemprov Sulsel dan masyarakat pada umumnya agar bisa menerima kembali, tidak membeda-bedakan satu sama lain dan tidak mendiskreditkan.Sahmuddin (39), salah satu eks Gafatar yang dipulangkan memboyong Herlina (31) istrinya berikut empat anak-anaknya yang kecil. Dia mengaku tidak begitu respek dengan pernyataan dan tudingan yang beredar di luar tentang persoalan aqidah warga mantan pengikut Gafatar khususnya mereka yang muslim yang disebut-sebut telah meninggalkan kemurnian ajaran Islam."Gafatar disebut-sebut menggabungkan semua ajaran agama padahal tidak ada itu. Kita ini Islam, dalam KTP Islam dan juga masih sholat," kata Sahmuddin.Hanya saja memang, aku lelaki yang sempat mengecap pendidikan hingga jenjang SMA ini, di Gafatar itu mempelajari kitab-kitab lain selain Al Quran."Tidak ada itu penggabungan ajaran agama. Yang saya pahami adalah kita memang mempelajari juga kitab injil dan taurat. Apa salahnya kita pelajari kalau sekadar hendak memahaminya," tutur Sahmuddin mengulang penegasannya dengan logat Maluku.Sahmuddin berkisah, asal kampung kelahirannya adalah Desa Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel. Sementara Herlina istrinya dari Kota Palopo Sulsel. Setelah menikah, dia merantau ke Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Untuk menghidupi keluarganya, dia berkebun tetapi gagal. Lalu ke Ambon menjual minuman-minuman instan. Di Ambon ini dia mengenal dan bergabung dengan Gafatar."Saat dengar ada lahan bisa digarap di Kaltim, saya lalu bawa keluarga ke sana. Menggarap lahan pinjaman warga setempat. Sudah mau panen sayur mayur seperti bayam dan ubi jalar tapi tiba-tiba harus dipulangkan," tuturnya.49 Eks pengikut Gafatar yang sudah tiba akan diinapkan di Asrama Haji Sudiang selama satu atau dua hari sebelum dijemput oleh keluarga atau unsur pemerintah daerah asal dari masing-masing warga ini. Selama dua hari itu, tim Pekerja Sosial (Peksos) Makassar melakukan assesment selanjutnya diberikan pencerahan sebelum bertolak ke daerah asalnya masing-masing.
49 Eks Gafatar tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Eks Gafatar menumpangi pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 661.
Rekomendasi