KBS jajaki kerja sama dengan Malaysia dan Afsel

Saat ini KBS masih dilanda konflik kepemilikan.

Moch. Andriansyah
Oleh Moch. Andriansyah - Reporter
KBS jajaki kerja sama dengan Malaysia dan Afsel
Kebun Binatang Surabaya. ©2013 Merdeka.com/Moch. Andriansyah

Kebun Binatang Surabaya (KBS) di Jawa Timur, masih menjadi obyek perhatian dunia. Meski sempat terjadi konflik internal di dua tahun terakhir ini, manajemen Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) dinilai mampu mengelola KBS di tengah krisis dan masa transisi, pascakonflik. Dan hari ini, Senin (18/1), dua pengamat satwa dari Animal Projects and Enviromental Education (APE) Malaysia, Fareea Ma dan Dave Morgan dari Wild Wellife dari Afrika Selatan, berkunjung ke KBS. Keduanya ingin membahas perkembangan KBS dan potensi kerja sama di masa mendatang. Ditemani Dirut PDTS KBS, Aschta Boestani Tajudin, Ma dan Morgan melihat-lihat satwa koleksi kebun binatang peninggalan Belanda tersebut, usai berdiskusi soal KBS di kantor sekretariatan. Morgan mengaku, ‎Tahun 2014 lalu, dia pernah datang ke KBS. Dia melihat setelah dua tahun sejak kedatangannya itu, KBS mengalami perubahan cukup signifikan. Khususnya perhatian manajemen terhadap kesejahteraan satwa-satwa koleksi KBS. Bersama dengan Ma, Morgan mengaku ingin menjalin kerja sama dengan KBS. ‎"Dengan perhatian ini, setidaknya KBS sudah mampu memberikan bukti perubahan kesejahteraan satwa, meski pernah dilanda konflik kepemilikan yang sampai saat ini, masih belum terselesaikan," kata Morgan. Menurutnya, tak ada kebun binatang di dunia ini yang sempurna. Yang paling penting adalah terus berbenah. "Apalagi, KBS merupakan kebun binatang yang sangat tua. Kandangnya pun juga sudah tua, makanya harus ada perombakan fasilitas," katanya.Baginya, perawatan satwa tidak hanya sebatas dimasukkan kandang dan diberi makan. Tapi lebih dari itu. "Harus terus diawasi dan dirawat, agar tetap sehat, mental maupun fisiknya. Makanya kami di sini, akan merencanakan pengkayaan satwa," akunya.‎Di tempat sama, Aschta mengaku, rencana kerja sama internasional yang akan dilakukan pihaknya dengan APE dan Wellife, akan digalakkan selama enam bulan ke depan. "Ini tujuannya untuk meningkatkan kehidupan dan pengelolaan satwa di KBS," kata dia. Aschta mengakui, sampai saat ini, KBS memang memiliki persoalan-persoalan yang masih belum terselesaikan, termasuk bagaimana mengelola dan merawat satwa-satwa tua, dan sakit."Saat ini ada 120 satwa yang masuk kategori tua dan 50 satwa yang mengalami obesitas. Kerja sama ini sendiri, akan mampu meningkatkan pengelolaan satwa di KBS," sambungnya. Dia melanjutkan, "Ada banyak project yang akan kita kerjakan. Sore ini saya akan melisting apa kemauan saya dan apa yang bisa mereka (APE dan Wellife) bantu. Saat ini, (project) yang sudah di-confirm adalah Beruang Madu."Sementara terkait konflik di KBS, yang dimungkinkan bisa saja kebali memanas, Aschta mengaku tidak ingin terlibat jauh dalam pusaran konflik. "Saya melihatnya, permasalahan di KBS, ada 'pulau-pulau' (persoalan) kecil.""Makanya saya tidak mau terlibat banyak soal aset. Tapi bagaimana mengelola. Ada Dave Morgan dan Fareea Ma, yang siap bekerja sama. Saya juga dikontak asosiasi kebun binatang di Australia. Makanya kita dorong Pemkot (Surabaya): Ayo apalagi yang kita tunggu," tegasnya.‎Aschta juga berharap, konflik KBS segera usai. "Jika persoalan KBS selesai, maka inilah kado istimewa di ulang tahun ke 100 KBS, di tahun ini (2016). Ketika KBS di usia 100 tahun, saya berharap persoalan selesai. Dan pengelolaan KBS bisa berjalan lebih baik lagi di masa mendatang," harapnya.

Rekomendasi