Kisah perjodohan berakhir di meja pengadilan

Selama 7 mengarungi rumah tangga Wina tak pernah berhubungan intim layaknya suami dan istri.

Intan Umbari Prihatin
Oleh Intan Umbari Prihatin - Reporter
Kisah perjodohan berakhir di meja pengadilan
Ilustrasi Pernikahan. ©2015 Merdeka.com

Perjodohan yang digagas orangtua menjadi momok tersendiri bagi anak yang sedang dikejar target untuk menikah. Orangtua berpendapat penilaiannya tidak pernah salah untuk anaknya. Anakpun harus patuh dan bisa menerima keputusan orangtua. Wina (29) yang menikah atas dasar perjodohan dan terpaksa ingin membahagiakan orangtua. "Saya menikah pada tahun 2014 dengan seorang laki-laki pilihan ayah," ucapnya ketika dihubungi merdeka.com, Jumat (8/1). Awal mula perjodohan Wina dengan laki-laki pilihan ayahnya memang sangat singkat. Tiga bulan Wina dan lelaki berlatar belakang santri inipun menjalani pendekatan. Menurut Wina, lelaki tersebut tidak sesuai dengan kriterianya. "Tiga bulan kita jalani tapi dia gak masuk kriteria. Mungkin karena dia gak pernah pacaran dan saya pernah mengalami pacaran," ungkapnya. "Kan saya lebih suka sama orang yang perhatian dan suka ngehubungin kalau lagi PDKT tapi dia malah kaku," tambahnya. Wina tak ingin menjadi anak durhaka maka dari itu dia menuruti apa kata ayahnya. Tak hanya ingin menuruti perintah, ayahnya pun mendesak untuk menikah dengan pria yang beda usia lima tahun tersebut. "Waktu itu saya memang ikhlas tapi karena Ayah bilang : Jika kamu mau sama dia, tahun ini nikah (tahun 2014) tapi kalau gak mau urus diri sendiri," ungkapnya. Dilema dan sedih meracuni Wina karena tak bisa melepaskan kenangan bersama mantan kekasih yang telah dia rajut selama 7 tahun. "Saya memang gak bisa move on dari mantan pacar yang dulu, sudah tujuh tahun saya jalani sama dia. Dari tahun 2004-2010 dan memang gak bisa lupa pada saat itu," bebernya. Menurutnya tak mudah untuk memutuskan memilih seorang pendamping yang tidak sesuai hatinya. Wina pun menuruti untuk menikah dengan lelaki tersebut pada tahun 2014. Namun dalam hati kecilnya Wina tak ikhlas untuk menerima lelaki pilihan ayahnya. "Kalau dibilang gak Ikhlas ya gak!. Saya mencoba untuk menghormati dan membuat ayah bahagia. Waktu menjelang pernikahan pun saya sudah males-malesan buat ngerjain segala macam. Kalo dibilang memang pilihan orangtua terbaik memang iya tetapi mungkin hati saya yang tak menerima dengan perjodohan yang digagas oleh Ayah dan Ibu Saya," ungkapnya.

Setelah Wina mengiyakan untuk hidup bersama lelaki pilihan ayahnya, keluarga dari pihak lelaki dan pihak Wina bertemu untuk menentukan tanggal pernikahan. Wina masih ingat betul pada saat itu dirinya tak ingin menikah namun sudah merasa yakin untuk bisa mencoba."Orangtua ketemu terus ada acara lamaran. Dan saya harus ikhlas dengan itu. Bismillah karena itu mungkin yang terbaik," katanya. Setelah lamaran, beberapa bulan pun berselang Wina dan lelaki pilihannya menjalani akad nikah. Jelang akad nikah pun hati Wina tak karuan. "Waktu akad nikah hati saya campur-campur seneng sih bisa melepas lajang tapi takut setelah akad gimana?" bebernya.Wina dan lelaki berlatar belakang santri ini pun mengikat janji suci namun berlandaskan keikhlasan dari Wina. Lantaran hanya bermodal ikhlas Wina pun masih ada rasa canggung karena tak mengenal lebih dalam sosok suaminya tersebut. "Sudah sah tapi saya masih anggep dia kayak orang asing, jadi pas sudah sah saya gak tidur sekamar sama suami saya. Suami tidur di kamar saya sementara saya tidur di kamar adik," jelasnya.

"Saya merasa aneh tidur sekamar sama orang yang saya belum kenal dekat," tambahnya. Selama mengarungi rumah tangga Wina tak pernah berhubungan intim layaknya suami dan istri. Dirinya mengakui belum bisa membuka hati untuk orang lain selain mantannya dan takut dengan tindakan suaminya yang ingin berhubungan intim tapi kasar. "Waktu itu dia pernah coba melakukan hubungan intim dengan saya tapi caranya salah, dia malah bikin saya gak mau dan menolak untuk berhubungan. Saya juga berniat untuk menutup hati untuk suami saya," jelasnya.Karena kejadian tersebut, Wina selama tujuh bulan di masa pernikahannya tak pernah bertemu walaupun satu rumah. "Karena kejadian itu saya gak pernah ketemu sama suami saya karena takut kejadian hal kayak gitu lagi dan ada omongan yang bikin saya gak cocok," ungkapnya.Wina menjelaskan, bahwa keputusannya untuk mengakhiri biduk rumah tangganya lantaran sikap suami yang kasar. Dirinya pun sudah membicarakan dengan kedua orang tuanya. "Waktu saya tahu suami saya ngelakuin KDRT orangtua saya sempat terpukul, apalagi ibu yang melihat anaknya dikasari. Siapa yang mau anaknya jadi janda? kan gak ada yang mau," terangnya.

Setelah menjelaskan kepada kedua orangtua, Wina akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan laki-laki pilihan ayahnya tersebut. "Kali ini Ayah mendengar omongan saya. Akhirnya bapak datang ke rumah saya, nanya banyak dan menyadari perjodohan ini gagal," bebernya."Dan Ibu tidak bisa menerima karena siapa yang mau anaknya jadi janda? Gak ada yang mau pastinya tapi orangtua mengerti dan mengabulkan permintaan saya," tambahnya.Wina pun mengakhiri perjodohan yang diusung oleh ayahnya di meja pengadilan dan dia pun mengakui lega karena sudah tidak tertekan dalam rumah tangganya. "Lega bisa jujur sama ayah tapi gak enaknya ngecawain ibu saya," tandasnya.

Rekomendasi