Presdir AirAsia: Pilot QZ8501 sudah sesuai prosedur

"Pilot adalah manusia, pada saat kondisi ekstrem, orang satu dengan orang lain akan bereaksi berbeda," ujar Sunu.

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Presdir AirAsia: Pilot QZ8501 sudah sesuai prosedur
Sunu Widyatmoko Presiden Direktur AirAsia Indonesia. ©2015 Merdeka.com

Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko menegaskan, bahwa seorang pilot wajib menjalankan keputusan sesuai dengan prosedur. Dalam kasus kecelakaan AirAsia QZ8501, menurut Sunu sang pilot telah menjalankan keputusan sesuai dengan ketentuan."Di atas pesawat, Standart Operating Procedure (SOP) sudah sangat jelas. Pilot adalah manusia, pada saat kondisi ekstrem, orang satu dengan orang lain akan bereaksi berbeda. Reaksi dari pilot berbeda," kata Sunu Widyatmoko menjawab pertanyaan peserta dialog di Universitas Brawijaya Malang, Jumat (4/12) kemarin. Sunu memberikan Guest Lecture CEO Talk Series, Leading in Turbulance and the Conpetitive Lanscape di Universitas Brawijaya. Selama dialog, Sunu bercerita tentang pengalaman sebagai Presiden Direktur AirAsia Indonesia.Sebelumnya KNKT menyampaikan, berdasarkan rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR) terdapat pembicaraan salah paham antara pilot Iriyanto dan kopilot Remi Plesel. Ketika itu pesawat menukik ke atas usai adanya gangguan pada rudder travel limiter unit (RTLU).Saat itu posisi pesawat naik dari ketinggian 32 ribu kaki dari permukaan laut ke 38 ribu kaki. Saat pesawat mulai naik, ada perintah kapten pull down yang agak membingungkan.Dari catatan flight data recorder (FDR), diketahui pilot berusaha menurunkan pesawat, kopilot justru menarik kemudi dan menaikkan pesawat."Secara SOP tetap, pada saat mulai tugas bisa melakukan keputusan. Terlepas benar atau salah. Kita harus tahu, informasi apa yang ditampilkan sehingga muncul reaksi itu," katanya.Selain itu, kata Sunu, AirAsia telah menjalankan prosedur terbaik selama menghadapi cobaan kecelakaan QZ8501. Pihaknya memegang prinsip tidak berbohong, membantu yang terbaik dan memberikan informasi secepatnya pada keluarga."Kita posisikan kejadian itu sebagai sebuah bencana. Kita tidak tahu, keluarga juga tidak tahu yang terjadi sebenarnya. Begitu ada informasi langsung kita sampaikan," katanya.Selama menghadapi persoalan, Sunu mengaku langsung menghadapi keluarga korban. Dirinya tidak mau menimpakan persoalan kepada staf atau orang lain."Pemimpinnya memang yang harus muncul, bukan stafnya. Kami bertekad untuk benar-benar open. Akhirnya pemerintah menyadari, semua pihak juga memahami yang kita alami," katanya.

Rekomendasi