Aksi saling serang dan merusak sejumlah fasilitas publik oleh kader yang hadir dalam kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Pekanbaru terus terjadi. Kongres HMI ke-29 ini dibuka langsung Wakil Presiden Jusuf Kalla di Hotel Labersa, Pekanbaru pada tanggal 22 November 2015. Namun aksi pembakaran ban dan menghancurkan fasilitas Gelanggang Olah Raga Remaja (GOR) tempat berlangsungnya kongres sudah terjadi sejak 21 November 2015.Berdasarkan susunan acara, Kongres HMI harusnya berlangsung hanya lima hari mulai 22 November hingga 26 November 2015. Karena lebih banyak rusuh dan terkendala persoalan teknis, kongres ini molor hingga sekarang. Belum ada kepastian kapan acara ini kelar.Memasuki hari ke-12, kongres HMI kembali rusuh akibat amarah peserta yang tidak terima dengan kesepakatan poin dalam agenda pembahasan persidangan. Murka dengan keputusan presidium sidang, peserta bertengkar menggunakan kursi dan meja.Salah satu petugas yang berjaga saat kongres berlangsung mengatakan, aksi saling lempar kursi antara peserta dengan presidium sidang terjadi pada Jumat (4/12), sekitar pukul 03.00 WIB di GOR. "Dari Goa Makassar mereka enggak terima dengan beberapa poin yang dibacakan. Kurang tahu juga poinnya apa saja," kata petugas keamanan kongres HMI, Emyu, kepada merdeka.com."Mereka marah. Merusak meja, kemudian ada perlawanan dari peserta asal Ambon, panitia, dan orang-orang yang di podium," imbuh Emyu.
Advertisement
Aksi saling lempar, lanjut Emyu tidak hanya terjadi dalam ruangan persidangan, melainkan berlanjut hingga ke ruas jalan di depan GOR. Untuk menghentikan tindakan tak terpuji itu, polisi terpaksa melepaskan tembakan."Wah sampai kami nembak-nembak baru mereka mau berhenti," ucap Emyu.Akibat tindakan itu, Emyu menyebutkan ada peserta mengalami luka-luka karena terkena lemparan kursi. Namun dia tak merinci berapa jumlah peserta yang luka. Risau dengan ulah kader HMI yang tak henti-hentinya berbuat rusuh, Ketua Umum HMI Badko Kepri, Munawir, menegaskan akan meminta aparat kepolisian bersenjata lengkap untuk mengawal jalannya kongres."Jika panitia pusat tidak mampu lagi menangani dan mengamankan arena kongres, maka kami sebagai pihak tuan rumah akan meminta aparat kepolisian bersenjata lengkap untuk mengamankan," ujarnya.Munawir mengatakan, sebagai tuan rumah kongres ini, dia menginginkan ada hasil akhir dari kongres. Apalagi, pelaksanaan kongres merogoh keuangan APBD Riau sebesar Rp 3 miliar."Kita tidak mau tidak ada keputusan, kita tidak mau disalahkan masyarakat Riau nantinya. Kita sudah dibantu Rp 3 miliar tentunya kalau tidak ada hasil malu rasanya," keluh Munawir.
Advertisement
12 Hari kongres HMI yang diwarnai kerusuhan membuat kader senior HMI murka. Dari sumber di internal HMI yang dihimpun merdeka.com menyebutkan, kondisi saling serang peserta kongres dianggap sangat memalukan dan tidak mencerminkan insan akademis yang bernapaskan Islam."Sama sekali tidak mencerminkan insan akademis yang bernapaskan Islam. Terlalu berlebihan. Makin tinggi ilmu, makin brutal. Apakah ciri khas yang yang harus dibanggakan? kalau enggak seperti ini, bukan HMI?" tulis salah satu kader senior.Tidak hanya itu, beberapa sumber lain menyebutkan, pelaksanaan kongres HMI ini seharusnya dikawal Kopassus agar tak terjadi tindakan saling serang. "Harusnya Kopassus yang ditugasin amanin kongres HMI karena kadernya makin brutal. Sungguh memalukan.""Astaga...HMI kini disusupi preman. Mungkin sebaiknya alumni setop ngasih donasi kalau kelakuan adik-adik HMI tak segera berubah. Kongres HMI diwarnai anarkisme, nuansa intelektual dan Islam kian memudar."