Benarkah pekerja rumah tangga kini lebih memilih buruh pabrik?

Padahal, keberadaan pekerja rumah tangga sangat membantu ibu-ibu yang bekerja sebagai wanita karier.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Benarkah pekerja rumah tangga kini lebih memilih buruh pabrik?
demo prt. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Banyak ibu rumah tangga mengeluhkan sulitnya mencari pekerja rumah tangga. Padahal, keberadaan pekerja rumah tangga sangat membantu ibu-ibu yang bekerja sebagai wanita karier.Omongan di kalangan ibu-ibu, sulitnya mencari pekerja rumah tangga karena banyak yang memilih bekerja sebagai pegawai atau buruh. Benarkah demikian?Sejumlah penyalur mengaku tak merasakan hal itu. Meski mereka mengakui, sejumlah pekerja yang melamar memilih menjadi baby sitter dari pada menjadi PRT."Alhamdulillah enggak, selalu banyak (yang melamar), saat ini masih banyak yang melamar," kata seorang pegawai penyalur jasa pekerja rumah tangga di kawasan Tomang, saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (27/11)Selama sebulan terakhir, kata dia, lebih kurang ada 100 orang yang melamar dari berbagai daerah dari Jawa Tengah dan Jawab Lampung."Mereka beralasan pilih jadi baby sitter karena senang pada anak. Selain itu buat yang gadis sekaligus belajar merawat anak dan membantu ekonomi orang tua. Kalau yang sudah berkeluarga membantu suami," tambahnya.Ditambahkan dia, alasan lain pekerja memilih jadi baby sitter karena gaji yang didapat lebih besar."Sementara kalau mereka jadi buruh harus kuliah lagi, karena rata-rata kan enggak boleh SMP," tambahnya.Hal berbeda terjadi dengan penyalur pekerja rumah di kawasan Pondo Gede. Dia mengakui di tempatnya memang banyak yang mendaftar jadi baby sitter dari pada menjadi PRT."PRT emang agak sulit, tapi kalau baby sitter enggak, alasannya enggak mau jadi PRT mungkin masalah gaji," pungkasnya.Dihubungi terpisah, pemilik website pembantu.com, Nasrul Salam, membenarkan banyak pekerja memilih jadi buruh atau pegawai."Iya benar, karena buruh kan dapat UMR, terjamin, status sosial mereka juga lebih bagus, pergaulan terbuka, kemudian kalau kita melihat remaja putri mereka merasa lebih baik bekerja dari pada PRT. Lagi-lagi pilihan menjadi buruh karena didorong pada status sosial," jelas Nasrul.Selain itu, kata dia, profesi PRT juga rentan ancaman, perdagangan manusia dan KDRT. "Karenakan di dalam rumah tertutup. Kalau pabrikkan tidak tertutup," tambahnya.Sementara buat mereka yang memilih jadi pekerja rumah tangga atau baby sitter pastinya juga punya alasan. Salah satunya, kendala di pendidikan, tapi punya gaji utuh dan buat yang nginap tempat tinggalnya di tanggung majikan.Dalam kesempatan yang sama, Nasrul juga menceritakan alasannya membuat website pembantu.com yang dibuat untuk membantu penyalur menyalurkan pekerja mereka. Ide itu, kata dia, bermula ketika tahun 2011 dirinya merasa kesulitan menjadi pekerja rumah tangga."Saat itu saya tanya sana sini, cari ke yayasan sampai saya kemudian saya lihat di penyalur di Cempaka Putih banyak stok tapi kesulitan menyalurkan, lalu saya pikir kenapa enggak buat website. Juni 2013, kita mulai saat ini ada 120 yayasan mendaftar, 80 aktif. Mereka sebagai anggota meng-upload sendiri orang yang akan disalurkan, kemudian majikan sendiri yang berkomunikasi dengan si penyalur," jelas dia.Dia memastikan, semua penyalur yang tergabung dalam websitenya sudah terverifikasi. Sejak berdiri, kata dia, lebih kurang sudah 4.500 orang pekerja yang tersalurkan. "Ini bisa diakses semua kota," tambahnya.Sebagai pencari, nantinya diminta untuk login. Pemesanan bisa dilakukan dengan langsung menghubungi penyalur atau menuliskan pesan melalui website."Soal keamanan saya tegaskan semua penyalur kita verifikasi, tapi dalam praktiknya yang nakal ada juga, kita kasih sanksi penyalur," pungkasnya.

Rekomendasi