Pengakuan IDI dan orangtua soal kematian dokter Andra

Menjadi dokter di daerah terpencil tak melulu soal bayaran. Mereka diminta mengabdi dalam kondisi serba sulit.

Aryo Putranto Saptohutomo
Pengakuan IDI dan orangtua soal kematian dokter Andra
Dokter Andra. ©2015 merdeka.com/mitra ramadhan

Meninggalnya Dionisius Giri Samudra (24) atau akrab disapa dokter Andra, membuka tabir tentang kesulitan dihadapi oleh para petugas kesehatan di pedalaman dan daerah terpencil. Tekad dan pengabdian menjadi modal utama mereka bisa bertahan.Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengaku prihatin dengan peristiwa dialami dokter Andra. Namun menurut mereka, kasus seperti itu pernah terjadi sebelumnya di Aceh."Seminggu yang lalu di Aceh ada juga, tetapi tak terekspos media. Padahal, selama ini kita sudah berkali-kali meminta agar harus diatur penempatan petugas kesehatan. Kami telah meminta kepada pemerintah dan DPR," kata Sekretaris Jenderal IDI, Daeng Muhammad Faqih, saat ditemui di area Kargo Bandara Soekarno-Hatta, kemarin.Seharusnya, kata Faqih, tenaga medis ditugaskan di daerah diberikan berbagai pembekalan. Termasuk perlindungan akan keselamatan mereka."Paling penting adalah bagaimana perlindungan kepada tenaga medis, kan aneh sinyal bisa enggak masuk di sebuah wilayah, tapi dokter bisa masuk. Dapat dibayangkan, jika terjadi apa-apa dengan dokter dan perawat kita. Kadang ada yang naik boat, hilang entah ke mana. Jangan kemudian kami disalahkan agak malas ke sana (daerah pedalaman)," ujar Faqih.Menurut Faqih, seluruh dokter magang seperti dokter Andra, tak ada yang dilengkapi dengan jaminan kesehatan, tak ada asuransi jiwa, dan minim sekali sarana prasarana disediakan pemerintah. Sekalipun, kata Faqih, Kemenkes menyatakan dokter Andra meninggal murni karena kondisi kesehatan yang terus menurun."Tapi harus ada makna bagi mereka yang tengah bertugas untuk negara. Dalam setiap putaran (setiap tahun ada magang) kami ingat selalu ada kasus seperti ini, dan kami sudah bilang ke DPR soal ini," tambah Faqih.Faqih menyatakan turut berduka dengan meninggalnya dokter Andra, saat hendak melakukan magang di lokasi terpencil, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Namun dia menyatakan, seharusnya peristiwa itu tidak terjadi jika pemerintah mau memperhatikan para petugas kesehatan.Faqih mengakui, menjadi seorang dokter itu tidak mudah dan memerlukan biaya besar saat menempuh pendidikan. Dia melanjutkan, dapat dibayangkan bagaimana seorang dokter muda harus melakukan magang dan mengabdikan ilmunya ke lokasi terpencil, tetapi dengan fasilitas minim. Apalagi segala sesuatunya tak dipersiapkan oleh pemerintah."Jangan bicara kesejahteraan deh. Perlindungan dan persiapan kita di lokasi. Seperti ini, tidak bisa hanya Kemenkes saja yang mempersiapkan, tetapi harus seluruh kementerian," lanjut Faqih.


Menurut Faqih, IDI sebagai organisasi dokter di Indonesia ikut berbela sungkawa dan menyatakan solidaritas dengan kejadian ini."Sejak dokter Andra meninggal, kita gunakan pita hitam sebagai tanda berkabung, ini seluruh IDI menggunakan pita hitam," ucap Faqih.Cerita lain juga meluncur dari lisan ayah dokter Andra, Agustinus Mudjianto (57). Mendengar anaknya sakit keras, dia segera berangkat ke Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, pada Senin (9/11). Namun upaya segera bertemu anaknya justru terkendala sulitnya akses transportasi."Begitu dapat kabar, saya langsung beli tiket terbang ke Ambon. Habis itu naik pesawat kecil ke Kota Tual. Di sana saya belum bisa langsung pergi, soalnya belum ada kapal feri," kata Agustinus kemarin.Jadwal keberangkatan kapal feri dari pelabuhan Kota Tual menuju Dobo hanya dua hari dalam sepekan, yakni Rabu dan Jumat. Saat itu, Agustinus tiba di kota Tual pada Senin. Karena feri tidak ada, dia terpaksa menunggu dan menginap di tempat seadanya hingga Rabu."Saya harus nginap di pelabuhan. Tempatnya itu kayak Tanjung Priok, ada pasar-pasarnya juga. Saya sudah kayak orang bodoh menunggu di sana," tutur Agustinus.Kepala Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan, Usman Sumantri, menyatakan dokter Andra layak mendapatkan penghargaan tertinggi bagi seseorang di bidang kesehatan."Kami anugerahkan penghargaan Ksatria Bakti Husada kepada dokter Andra, atas jasanya melayani pasien di daerah timur. Kami tahu, daerah timur lebih berat, saya pernah ke sana, pulaunya indah. Itu dokter Andra memilih pasti karena itu," kata Usman dalam sambutannya di hadapan keluarga dan kerabat Andra.Menurut Usman, apa yang dilakukan Andra patut diteladani. Yakni bertugas dengan segenap hati dengan tak melihat jarak tempuh."Seorang dokter memang harus seperti itu, ini patut diteladani bagi dokter lain," ujar Usman.Tampak peti jenazah dokter Andra diselimuti bendera merah putih. Disampingnya terdapat karangan bunga. Situasi di lokasi cukup ramai dengan kehadiran seluruh keluarga Andra, yakni sang ayah, ibunda Fransisca Ristansia (50), serta kakak dan adiknya."Saya sesali saya tak bisa bertemu dia di saat akhir. Kondisi akses ke sana memang sangat sulit, daerahnya seram juga," lanjut Agustinus.Jasad dokter Andra akan disemayamkan di rumah duka di Pamulang, Tangerang Selatan. Rencananya dia akan dimakamkan di TPU Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Minggu (15/11).

Rekomendasi