Mahasiswi STIE PGRI Sukabumi Jurusan Manajemen Ekonomi, Lely Damayanti (23) tak menyangka akan membantu proses persalinan bayi di dalam kereta. Lely berangkat dari Stasiun Paledang, Bogor yang seharusnya berangkat pukul 07.55 WIB namun kereta terlambat membawanya menuju Sukabumi. Dalam perjalanan antara Stasiun Batu Tulis menuju Stasiun Maseng, tiba-tiba ada air ketuban mengucur ke lantai gerbong. Tak ada yang menyangka jika itu air ketuban. "Ada ibu-ibu saya kira orang sakit, karena ibu itu cuma lemes aja. Gak tau ternyata lagi kontraksi, trus pas menuju Stasiun Maseng, air ketubannya pecah. Dia kan duduknya di 7E, saya di 4E. Jadi dari bangku saya kelihatan air ketubannya sudah pecah," terang Lely saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (12/11). Beberapa penumpang langsung berdiri di sekitar ibu yang akan melahirkan itu. Ada seorang lelaki tua tiba-tiba berdiri dan berteriak kepada petugas, "Ini Pak melahirkan, melahirkan."Di sekitar ibu yang akan melahirkan itu terjadi penumpukan penumpang. Namun menurut Lely, tak ada satupun penumpang yang berani bantu. Sebagian yang panik hanya berteriak, "Iya bu tarik nafas, keluarin ayo terus."Lely berujar, mungkin karena para petugasnya laki-laki, jadi mereka ketakutan dan malu karena bukan muhrim. Melihat hal itu, salah seorang penumpang di sebelah Lely, Dita (23) cekatan membantu ibu yang akan melahirkan itu.Beberapa helai pakaian yang dikenakan ibu yang akan melahirkan itu dibuka. Namun ternyata yang kelihatan duluan justru pantat bayi."Penuh satu gerbong. Pada panik. Habis itu yang keluar duluan pantat bayinya. Itu yang bikin kita khawatir. Kalau kepalanya kan bisa kita tarik, kalau pantatnya kan susah. Baru setelah itu aku ikut bantuin, akhirnya kita berdua (Lely dan Dita) bantuin ibunya," ungkapnya.Ada ibu-ibu yang heboh bilang, "Ayo semuanya bantuin doa."
Tak lama kemudian bayi berhasil dikeluarkan dari rahim ibu tadi. Tak ada alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di Gerbong Kereta. Lely akhirnya membungkus bayi tersebut dengan dua kain jilbab. "Akhirnya bayinya keluar dan saya bantu korek-korekin biar anaknya nafas. Anaknya kan belum nangis nih. Aku bantu korek lewat mulutnya. Akhirnya ada cairan yang keluar dari mulutnya trus bayinya nangis tapi pelan," tuturnya. Kesulitan kembali ditemui, tak ada alat yang bisa dipakai untuk menggunting ari-ari bayi itu. Kepanikan terulang. "Cuma waktu itu ari-arinya masih kesambung. Petugas masih hubungi Stasiun terdekat itu Maseng. Hubungi Puskesmas terdekat," jelasnya. Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengaku bekerja sebagai seorang dokter datang. Sebelumnya dia duduk di Gerbong Eksekutif. "Dokternya cowok, saya enggak tahu dia dokter apa tapi yang pasti dokter. Terus dia bantu buat motongin ari-ari bayinya pakai gunting," terangnya. Kemudian ketika Kereta Api sampai di Stasiun Maseng, ibu yang melahirkan dan bayinya dievakuasi ke Puskesmas Caringin. Dita mengikuti ibu tersebut sampai di Puskesmas. Sementara Lely ikut kereta membawanya ke Sukabumi. "Akhirnya bayinya sudah ditangani dan saya lihat foto bayinya alhamdulillah sudah bersih dan cantik. Saya ngelanjutin perjalanan ke Sukabumi. Itu kereta KRD, kereta Sukabumi-Bogor," tuturnya. Sesudah itu beberapa petugas membersihkan kursi tempat ibu tadi melahirkan. Kejadian tersebut terjadi sekitar 30 menit. Darah bertebaran di sekitar gerbong. "Waktu bayinya sudah keluar darahnya seember lebih deh. Tapi itu satu tempat duduk itu banyak darah. Terus jalan lagi dan bangku ibu tadi dibersihkan sama para petugas. Itu aroma darah ada satu gerbong," ungkapnya. Lely kecewa tak ada alat medis yang membantu pertolongan pertama. Menurutnya harusnya tiap gerbong kereta api disediakan P3K."Biasanya kan minimal disediakan kotak P3K di dalam gerbong kereta. Ini gak ada. Harusnya kalau SOP-nya kan setiap gerbong ada P3K. Minimal ada hansaplas atau apa kalau ada yang terluka. Ini enggak ada sama sekali," keluhnya.