Sejak kebakaran hebat yang melanda lereng Gunung Lawu hingga menyebabkan tujuh pendaki tewas dan dua lainnya luka bakar, tim SAR gabungan segera mengevakuasi sisa pendaki yang masih berada di sana. Tujuannya agar tidak ada lagi korban kebakaran lainnya.Tetapi upaya itu tidak berjalan mulus. Bukan disebabkan rintangan alam, tetapi karena beberapa pendaki yang ogah diajak turun. Mereka memilih untuk bertahan di puncak dari pada mengiyakan ajakan regu penyelamat.Seperti yang terjadi Rabu (21/10), delapan pendaki di Hargo Dumilah atau puncak tertinggi Gunung Lawu menolak dievakuasi. Kedelapan pendaki tersebut beralasan sedang melakukan ritual dalam rangka 1 Suro."Mereka tidak mau dievakuasi, ini kan merepotkan. Puncak Lawu harus disterilkan, karena masih terbakar," ujar Koordinator Basarnas Pos SAR Trenggalek Supriono kepada wartawan di pos pendakian Candi Cetho, Jenawi, Karanganyar.Memang saban tahun tepatnya di malam 1 Suro, Gunung Lawu selalu ramai oleh acara pendakian. Tidak sedikit dari mereka bertujuan untuk melakukan ritual tertentu, hingga mengabaikan faktor keselamatan walau terjadi kebakaran.
Advertisement
"Para pendaki ini datang dari berbagai daerah dan memiliki tujuan khusus. Mereka sengaja naik ke Gunung Lawu untuk melakukan ritual menyambut 1 Suro," katanya.Kabar mistis Lawu memang bukan hal baru. Gunung dengan ketinggian 3.265 meter dan terletak di antara Kabupaten Karanganyar dan Magetan ini menjadi salah satu lokasi bertapa. Sebagian masyarakat Jawa yang percaya, mensakralkan ketiga puncak Lawu; Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan puncak tertinggi Hargo Dumilah. Jadi tiap malam 1 Suro, ketiga puncak ini menjadi tujuan pendaki untuk melakukan ritual tertentu hingga berhari-hari.Berdasarkan informasi yang dihimpun, puncak pertama, Hargo Dalem diyakini sebagai tempat moksa Raja Majapahit terakhir Prabu Brawijaya V. Kemudian Hargo Dumiling diyakini sebagai tempat moksa pengasuh Brawijaya, Ki Sabdopalon.Sedangkan yang terakhir, Hargo Dumilah merupakan puncak yang dipercayai penuh misteri. Karenanya hingga kini banyak dipakai orang untuk bertapa.
Advertisement
Selain itu, masyarakat sekitar menyakini Gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual yang memiliki keterkaitan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran, kerajaan otonom yang pernah berkuasa di wilayah Surakarta sejak 1757 sampai dengan 1946.Selain tiga puncak tersebut, lokasi-lokasi yang dianggap mistis di Gunung Lawu adalah Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Cakrasurya dan Pringgodani.