Bahasa alay tidak negatif, takkan rusak tatanan Bahasa Indonesia

Bahasa alay itu punya ruang sendiri untuk menggunakannya.

Muchlisa Choiriah
Oleh Muchlisa Choiriah - Reporter
Bahasa alay tidak negatif, takkan rusak tatanan Bahasa Indonesia
Buku Aku Senang Belajar Bahasa Indonesia. ©2013 Merdeka.com

Di kalangan anak muda atau remaja, kata-kata seperti Miapah, Ciyus dan yang kini booming Baper alias bawa perasan, sudah tidak asing di telinga. Kata-kata itu disebut bahasa gaul dan banyak digunakan oleh mereka yang disebut anak lebay atau alay. Penggunaan kata-kata itu memang sah saja, tapi apakah bahasa alay bakal merusak tatanan bahasa Indonesia?

Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Nasional (Unas) Wahyu Wibowo menganggap bahasa alay yang digunakan remaja sekarang ini tak ada kaitannya apalagi sampai merusak bahasa Indonesia pada umumnya.

"Sebagai orang yang berpendidikan, semestinya kita tidak bisa menilai bahasa alay itu sesuatu yang negatif. Karena bahasa alay itu punya ruang sendiri untuk menggunakannya. Jadi tidak serta merta merusak papanan bahasa Indonesia," kata Wahyu saat dihubungi, Jumat (16/10).

Dalam pandangannya, bahasa alay digunakan khususnya para remaja sekarang ini, untuk mengekspresikan diri dan mencairkan suasana di antara mereka. Bahasa semacam itu cukup efektif di lingkungan teman sepermainan agar komunikasi lebih menyenangkan.

"Ya, bahasa itu sebenarnya hal yang biasa yang menjadi kebiasaan. Seperti contoh, misal ketika kita naik angkot. Dalam aturan turun angkot kan kita nyetop angkot dengan ketok kaca angkot. Nah itu memang hal yang menjadi kebiasaan di suatu wilayah kan? Kan tidak mungkin kita naik mobil sama misal pacar, terus mau turun juga ketok kaca? Nah bahasa alay seperti itu, sah saja. Karena menempati ruang masing-masing," paparnya.

Meskipun kerap menggunakan bahasa alay dalam pergaulan dan keseharian, anak-anak muda tetap tahu diri dan tetap menggunakan bahasa formal di waktu tertentu.

"Misalnya ketika mengerjakan tugas dari dosen, dia akan menggunakan bahasa yang pastinya bukan dalam konsep alay. Karena kan ada aturan akademiknya. Dia pasti tahu hal itu," paparnya.

"Yang lebih spesifik lagi, kalau nulis novel. Seorang sastrawan tak akan menggunakan bahasa alay dalam mendeskripsikan tulisannya. Kalau mereka pakai, itu saya tak setuju. Karena sekali lagi, bahasa alay itu hanya lokasi tertentu, di nilai tertentu," tutupnya.

Rekomendasi