Sudah lima hari sejak ditemukan tak bernyawa di dalam kardus pada Jumat (2/10) malam, pembunuh bocah berinisial PNF belum juga terungkap. Warga Kampung Belakang Jalan Sahabat RT 06/05 Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, sebelumnya ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan.Jasad bocah berusia sembilan tahun itu ditemukan tewas di dalam kardus tanpa busana dengan tangan dan kaki terikat lakban serta mulut tersumpal kaos kaki. Bahkan, bocah yang biasa dipanggil Neng diduga menjadi pelecehan seksual karena hasil otopsi ditemukan berkas sperma dan luka di area kelaminnya.Sejumlah pihak mengecam keras pembunuhan yang dilakukan terhadap Neng. Mereka menilai pembunuhan yang dilakukan terhadap Neng memperlihatkan kekerasan anak di negeri ini sudah darurat.Mensos Khofifah Indar Parawansa mengaku sangat prihatin dengan kasus tersebut. Sesuai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi), Kemensos berwenang menangani korban untuk direhabilitasi dan diberikan konseling di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA)."Sudah jelas disebutkan undang-undang perlindungan anak, kewajiban utama untuk mendidik dan melindungi anak berada di tangan keluarga, katanya di Gedung Kemensos, Jakarta, Senin (5/10).
Advertisement
Selain itu, Kemensos juga merekomendasikan agar ada pendidikan pra-nikah. Pendidikan tersebut diperlukan bagi setiap calon orangtua mempunyai kesiapan mental saat lahir anak-anak mereka."Ini tantangan yang harus dicarikan solusinya. Sebab, masih ada anggapan jika melaporkan kepada pihak berwajib dengan pelakunya keluarga sebagai perbuatan tabu dan membuka aib, sehingga harus ditutup rapat," kata dia.Bahkan anggota Komisi VIII DPR, Maman Imanulhaq, menyebut peristiwa malang yang menimpa pelajar SD itu menambah rentetan panjang kasus terhadap kekerasan anak. Sehingga, ia menilai dewasa ini Indonesia telah mengalami kondisi darurat terhadap kekerasan anak. "Indonesia memang darurat kekerasan terhadap anak. Tadinya kita berharap kasus Angeline adalah kasus terakhir. Tapi ternyata kasus kekerasan terhadap anak adalah persoalan gunung es yang sangat mengkhawatirkan," kata Maman di Gedung DPR, Jakarta, Senin (5/10). Oleh sebab itu, dia memastikan Komisi VIII DPR yang menaungi masalah perlindungan terhadap anak itu akan mempertanyakan peristiwa ini kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada rapat kerja dengan Komisi VIII DPR. Pemanggilan tersebut, kata dia, juga akan menjadi sarana bagi Komisi VIII DPR untuk menanyakan strategi apa yang akan diambil untuk mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. "Menanyakan strategi ke depan mengantisipasi kejadian ini agar tidak terulang. Harus ada gerakan masif yang sistematis untuk memerangi kekerasan terhadap anak," tandasnya.
Advertisement
Sementara itu, Wakil Ketua DPR, Agus Hermanto, berharap pihak kepolisian mengusut tuntas kasus pembunuhan Neng. Agus juga mengutuk pembunuh bocah 9 tahun tersebut."Ini kebejatan moral," kata Agus. Kecaman juga datang dari pegiat pecinta anak terkait kematian Neng. Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menilai pembunuhan yang dilakukan terhadap Neng sangat sadis."Tentu saya hadir di sini untuk berduka terhadap keluarga korban," kata Arist ketika berkunjung ke kediaman korban di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, Senin (5/10).Dia juga menilai pelaku sungguh biadab karena tega menghabisi nyawa anak di bawah umur. Parahnya lagi, jasad bocah itu dimasukkan di dalam kardus."Ini merupakan pembunuhan sadis dan keji. Ini biadab. Karena biadab itu saya akan lakukan lebih apa yang saya punyai," janjinya.Dia juga berharap polisi segera mengusut tuntas kasus tersebut. Bila tidak, warga akan menjadi resah akan keselamatan anak-anak mereka.