Karut marut di lapas, Kemenkum HAM salahkan sipir cuma lulusan SMA

Petugas lapas-lapas yang minim pendidikan mudah dirayu oleh para warga binaan yang memiliki banyak uang.

Faiq Hidayat
Oleh Faiq Hidayat - Reporter
Karut marut di lapas, Kemenkum HAM salahkan sipir cuma lulusan SMA
Lapas Nusakambangan. ©2014 merdeka.com/chandra iswinarno

Terpidana mafia pajak Gayus Tambunan kerap kali berulah yang membuat heboh. Kali ini, Gayus Tambunan menghebohkan karena beredar foto dirinya sedang makan di Restoran Manado, Jakarta Selatan.Belakangan diketahui, Gayus ke Jakarta karena menghadapi sidang cerai. Namun, tetap saja itu menyalahi prosedur.Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yassona Laoly pun geram dengan tingkah laku Gayus Tambunan tersebut."Makanya saya bilang tadi, yang dulu kan peristiwa dulu. Kalau yang kejadian sekarang sedang teliti. Kalau itu benar, ya udahlah, kalau ke Nusakambangan enggak pas, ke Gunung Sindur aja, biar gabung dia ke bandar-bandar itu tadi," ujar Yasonna di Istana Negara, Senin (21/9) kemarin.Selain itu, Jubir Dirjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM, Akbar Hadi mengakui, petugas lapas yang sudah lama bekerja hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan petugas lapas hanya sekali mendapatkan pelatihan. "Petugas pengamanan kan memang lulusan SMA, sementara lapas kita dihuni oleh kalangan berat, seperti koruptor dan bandar narkoba yang masih banyak duitnya," ujar Akbar dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Sabtu (26/9).

Akbar mengatakan biasanya sejumlah cara dilakukan oleh para warga binaan yang memiliki banyak duit itu untuk mempengaruhi semua petugas lapas agar memberikan dan melayani apapun hal yang mereka mau. Petugas lapas-lapas yang minim pendidikan mudah dirayu oleh para warga binaan yang memiliki banyak uang, seperti para koruptor dan bandar narkoba yang memang tidak dimiskinkan tersebut."Karena kurangnya pembekalan dan terus-terusan diimingi uang, tentu saja petugas kami yang lulusan SMA dan tidak pernah di-'charge' (diberi pelatihan) itu teperdaya oleh mereka. Masih untung enggak sampai lari warga binaannya itu" imbuh dia.Sementara itu, mantan warga binaan lapas Gorontalo, Bona Paputungan mengatakan petugas lapas bisa disogok atau dibeli oleh terpidana kasus korupsi dan lainnya. "Saya sebagai mantan warga binaan di Gorontalo tahun 2010 melihat situasi Lapas ada perlakuan tak adil. Banyak penyogokan bermain di sana," ujar Bona.Bona yang sempat tenar dengan lagunya 'Andai ku Gayus Tambunan' itu mengaku pernah menyaksikan warga binaan yang memiliki banyak uang dapat mengakali aturan yang ada di dalam Lapas."Saya ngomong dan melihat berdasarkan apa yang ada di lapangan. Hukum itu memang benar-benar bisa dilaksanakan hanya untuk orang kalangan ekonomi ke bawah. Bayangkan saja, contoh, jam besuk itu sampai hanya jam 1 (siang). Tapi, malam pun kita bisa dibesuk asal mampu nyogok sipir LP," pungkasnya.

Rekomendasi