Sudah hampir tiga tahun bergulir, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin Bandung dikhususkan jadi hotel prodeo para koruptor. Namun hampir saban tahun masalah demi masalah terjadi, terutama warga binaannya yang kerap diketahui keluyuran. Masih pantas kah Sukamiskin jadi lapas koruptor?"Saya kira masih cocok-cocok saja," kata Kadiv Pemasyarakatan Kemenkumham Kanwil Jawa Barat Agus Toyib, Rabu (23/9).Untuk diketahui pada pertengahan 2014 lalu LP Sukamisikin disoroti lantaran Mantan Wali Kota Bekasi Mochtar Muhammad kedapatan tengah berada di rumah makan di Jakarta bersama pengacaranya Sirra Prayuna. Tak seharusnya Mochtar berada di luar Lapas, karena masa hukuman yang baru ditempuh pada tahun lalu baru tiga tahun. Ada pun Mochtar divonis 6 tahun penjara.Yang terbaru, adalah kasus Gayus Halomoan Tambunan. Terpidana korupsi pajak tersebut terlihat di salah satu restoran di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Gayus di foto tampak hahahihi dengan dua wanita yang duduk di satu meja. Akibat ulahnya yang kesekian kali, pria 36 tahun tersebut langsung dipindahkan ke LP Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.Agus mengakui, mengurus para koruptor, apalagi yang bernotabene kelas kakap tidak lah mudah. LP Sukamiskin sendiri dipilih pemerintah lantaran kondisi sel yang memadai yakni menempatkan satu orang di satu ruangan. Sehingga gesekan sesama narapidana akan terminimalisir."Dari aspek bangunan yang kamarnya masing-masing jadi memang masih pantas," ungkapnya.Menurutnya LP Sukamiskin saat ini dihuni 489 warga binaan dari 545 kapasitas yang tersedia. Di sini koruptor kelas kakap merasakan dinginnya jeruji besi seperti mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Bendahara Partai Demokrat M Nazaruddin, dan sejumlah nama lainnya.
Sering bermasalah, masih pantaskah LP Sukamiskin jadi sel koruptor?
2014 lalu LP Sukamisikin disoroti lantaran Mantan Wali Kota Bekasi Mochtar Mohammad kedapatan di rumah makan di Jakarta.
Rekomendasi