4 Kisah campur tangan CIA yang berujung petaka

Salah satu misi CIA yang sempat terungkap adalah ketika lembaga ini berupaya mendongkel Soekarno dari jabatannya.

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
4 Kisah campur tangan CIA yang berujung petaka
CIA AS. ©blogspot.com

Sejak berdiri pada 18 September 1947, Central Intelligence Agency (CIA) atau Badan Intelijen Pusat telah menggelar banyak operasi militer di dunia. Tak hanya menginteli sebuah negara, lembaga ini tak segan bersikap agresif agar tujuannya bisa tercapai.Beberapa misi khusus disematkan kepada sejumlah agen yang ditempatkan di seluruh dunia, termasuk rencana untuk mendongkel pemerintahan yang sah di suatu negara. Tak peduli berapa banyak uang yang mesti dihamburkan, namun misi harus dituntaskan.Alhasil, banyak uang yang terbuang sia-sia. Bahkan misi yang sudah tersusun rapi terpaksa buyar. Tak sedikit pula dana yang dikucurkan jatuh ke pihak yang salah.Salah satu misi CIA yang sempat terungkap adalah ketika lembaga ini berupaya mendongkel Soekarno dari jabatannya. AS rupanya kesal dengan kebijakan Bung Karno yang tak mau mendekat ke Barat, malah memilih politik bebas aktif, bahkan lebih dekat dengan Uni Soviet.Selain Indonesia, CIA juga tercatat pernah membiayai Revolusi Iran untuk menurunkan Perdana Menteri yang dinilai sangat arogan dan diktator. Akan tetapi, upaya tersebut malah menjatuhkan kepemimpinan Shah Iran dan mengubah wajah Iran menjadi anti-Barat.Berikut sejumlah misi-misi campur tangan CIA yang berujung petaka:

Misi congkel Soekarno dari kekuasaan
Soekarno-Kennedy. ©blogspot.com

Presiden Soekarno merupakan pemimpin yang sangat karismatik di Indonesia. Namun, keputusannya untuk bersikap netral dan tidak memihak membuat khawatir Amerika Serikat (AS).Usai Perang Dunia Kedua, AS menaruh perhatian penuh terhadap penyebaran ideologi komunisme di seluruh dunia. Tindakan AS tersebut memicu perang dingin dengan Uni Soviet, di mana keduanya saling berebut pengaruh, terutama terhadap negara-negara yang baru merdeka.Tidak lama setelah Soekarno menggelar Gerakan Non Blok di Bandung, Presiden AS Dwight Eisenhower memerintahkan CIA memantau peta politik di Indonesia. Perintahnya sangat jelas, mendorong agar Indonesia masuk ke Blok Barat. Untuk menuntaskan misinya, CIA mengucurkan sejumlah Dolar ke Partai Masyumi.Perkembangan Partai Komunis Indonesia (PKI) menambah kekhawatiran AS, apalagi Soekarno ikut mendukung perkembangannya. Meski tak punya misi jelas, namun dipastikan AS tak mau Indonesia jatuh ke Blok Komunis. CIA lantas merekrut beberapa perwira yang dinilai Pro-Amerika.Mulai September 1957, CIA semakin agresif untuk mendongkel Soekarno dari jabatannya sebagai presiden. Lembaga ini mulai memberikan bantuan terhadap kelompok yang berseberangan dengan Bung Karno. Bahkan juga melibatkan diri dalam aksi pemberontakan PRRI/Permesta.Namun, misi ini perlahan mulai terungkap saat salah satu agennya tertangkap oleh militer Indonesia. Dia adalah Alan Pope, di mana pesawat B-26 Invader yang diterbangkannya berhasil ditembak jatuh. Kondisi ini membuat CIA mulai menarik diri dari Indonesia. Penangkapan tersebut juga membuat Soekarno memiliki posisi tawar terhadap AS.

Upaya turunkan Presiden Guetamala berujung perang saudara
Presiden Guetamala Jacobo Arbenz. ©2015 Merdeka.com

Untuk mengembalikan kekuasaan Shah Iran yang mulai goyah, CIA berencana menambah sejumlah negara agar mau mendekat ke Blok Barat. Salah satunya adalah menjatuhkan Presiden Guetamala Jacobo Arbenz. Namun sayang, rencana ini keburu diketahui publik sebelum benar-benar terjadi.Pada 18 Juni 1954, Carlos Castillo Armas melatih sejumlah orang yang direkrut CIA di dekat perbatasan Honduras. Seluruh senjata didatangkan langsung oleh CIA. Tak hanya itu, CIA juga menggelar perang urat syaraf terhadap pemerintahan Arbenz.Dengan menggunakan siaran radio, CIA menyebut pasukan Armas akan memperoleh kemenangan telak. Tak hanya itu, CIA juga menyebutkan banyak orang yang memilih bergabung bersama milisi Armas, dan dalam waktu dekat akan membebaskan bangsa itu dari tirani.Tujuh hari berikutnya, CIA memutuskan terlibat langsung dalam konflik tersebut. Lembaga ini mengirimkan pesawat bomber ke tengah kota dan menghancurkan cadangan minyak milik pemerintah dari udara.  Di saat bersamaan, Arbenz memutuskan untuk mempersenjatai penduduk lokal dan buruh untuk melawan.Namun rencana tersebut ditolak militer, hingga mendorong Arbenz turun dari jabatannya dan digantikan oleh Kolonel Carlos Enrique Diaz. Untuk memuluskan rencananya, CIA mendesak Guetamala menyerahkan kekuasaannya kepada pemimpin bonekanya, Armas. Hanya dalam sebulan, Armas terpilih menjadi presiden.Ternyata, pilihan CIA agar negeri tersebut dipimpin oleh orang yang dinilainya terbaik malah menimbulkan tragedi baru. Rakyat Guetamala malah merasakan penderitaan yang lebih parah dibandingkan sebelumnya, di mana Presiden Armas memerintah dengan tangan besi selama memimpin. Alhasil, negeri ini terlibat dalam perang saudara yang sangat brutal.

Dongkel PM Iran malah berbuah revolusi
Tentara Iran. alarabiya.net

Keputusan berani Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddegh untuk menasionalisasi perusahaan minyak Anglo-Iranian Oil Company membuat gerah pemerintah AS. Apalagi, Mosaddegh baru saja menduduki jabatan barunya tersebut pada 1951. Kebijakan ini juga membuat Iran mendapatkan embargo dari Inggris dengan memulangkan para pekerjanya.Setahun berikutnya, Mosaddegh mulai berhadapan dengan sejumlah politikus di Iran. Tak hanya itu, partai yang sebelumnya mendukung malah berbalik melawan. Kondisi ini membuat Mosaddegh berusaha bertindak dengan mengganti beberapa perwira militer yang loyal terhadap dirinya, tentu dengan persetujuan Shah.Tindakan ini membuat Mosaddegh mampu mengendalikan militer. Tanpa butuh waktu lama, dia mengumumkan darurat sipil selama enam bulan. Langkah ini membuat Mosaddegh melangkahi parlemen. Saat situasi darurat berakhir, dia tetap dapat melanggengkan kekuasannya hingga setahun kemudian.Baru pada 1953, parlemen memutuskan mendepak Mosaddegh dari kursinya. Langkah ini diikuti Shah untuk menggunakan hak konstitusionalnya. Ternyata, tindakan itu membuat Mosaddegh marah dan melancarkan kudeta militer hingga membuat Shah terasing dari negerinya sendiri.CIA ikut terlibat dalam upaya ini, di mana CIA mengintervensi pengumuman radio pada 7 Juli 1953. Tak hanya itu, pada 19 Agustus di tahun yang sama, CIA berusaha membiayai pergerakan Ayatollahs Khomeini, yang akhirnya menyulut salah satu pejabat di Kedutaan AS menyebutnya 'revolusi yang sangat spontan'.Namun upaya ini tak sepenuhnya berhasil, sebab Mosaddegh dilindungi perwira militer yang sangat loyal kepadanya. CIA juga tidak bisa bertindak banyak, apalagi jenderal pilihannya, Zahedi tak punya pasukan untuk digerakkan.Tindakan ini ternyata memicu revolusi besar di Iran, di mana rakyatnya sudah merasa jenuh dengan kepemimpinan Shah yang terlalu pro-Barat. Gerakan revolusi yang dipimpin Ayatolah berhasil mengganti rezim pemerintahan menjadi republik. Selama berlangsungnya revolusi, rakyat Iran sempat melakukan pengepungan dan menyandera sejumlah diplomat asal AS.

Misi pembunuhan Fidel Castro
Fidel Castro. REUTERS

Semula, CIA sangat menerima kehadiran pemimpin Kuba, Fidel Castro saat berkunjung ke Washington DC, AS. Bahkan, lembaga ini sempat berharap agar Castro bisa mendorong negerinya menjadi negara yang bersahabat dan demokratis. Tak hanya itu, CIA juga berencana memenuhi permintaannya dengan mengirimkan uang dan senjata yang diperlukan untuk revolusi Kuba.Tragedi bermula ketika sebuah memo diberikan kepada salah satu pejabat CIA. Di mana memo tersebut merekomendasikan agar Castro dieliminasi. Pejabat tersebut menduga diperintahkan untuk 'menyingkirkan' atau 'mendongkel' Casto.Dengan persetujuan CIA, Dick Bissell memutuskan untuk merekrut Mafia untuk membunuh Castro. Di saat bersamaan, Mafia tersebut mulai merekrut sejumlah pelarian untuk memuluskan rencana tersebut. FBI yang mengetahui rencana itu kemudian memberikan informasi kepada CIA bahwa sulit mendongkel Castro dengan dukungan para pelarian.Tindakan ini ini mendorong Castro mulai menjauhi AS. Bahkan, pemimpin eksentrik yang juga dekat dengan Soekarno ini memilih dekat dengan Blok Komunis di bawah kepemimpinan Uni Soviet.Lewat pendekatannya, Soviet menyetujui permintaan Castro untuk mendapatkan sejumlah dana untuk membangun kembali negerinya usai perang saudara, serta memberinya sejumlah senjata. Kejadian ini menimbulkan ketegangan di selatan AS, dan memicu insiden Bay of Pig.

Rekomendasi