Kisah pasukan elite AS dipecundangi di Afghanistan

Misi ini menjadi kekalahan terburuk yang dialami militer AS usai Perang Dunia Kedua.

Yulistyo Pratomo
Oleh Yulistyo Pratomo - Reporter
Kisah pasukan elite AS dipecundangi di Afghanistan
Operation Red Wings. ©istimewa

Serangan 11 September 2001 terhadap dua menara kembar World Trade Center (WTC) di New York menjadi alasan Amerika Serikat (AS) untuk menginvasi Afghanistan. Taliban langsung dituding sebagai kelompok yang harus bertanggung jawab atas runtuhnya WTC.Pemerintah AS segera meluncurkan Operasi Kebebasan Abadi atau Operation Enduring Freedom. Operasi ini dilaksanakan pada 7 Oktober 2001 dengan menggelar invasi besar-besaran ke tanah Afghanistan yang dikuasai milisi Taliban.Operasi ini berhasil memukul Taliban dari Kabul. Namun, serangan masif terhadap pasukan koalisi, terutama AS terus berlangsung. Kondisi ini memaksa militer AS untuk menggelar berbagai misi untuk menghancurkan basis-basis Taliban yang lain.Salah satunya adalah Operasi Sayap-sayap Merah atau Operation Red Wings. AS menerjunkan tim elitenya, Navy SEAL untuk mengawasi gerakan Ahmad Shah, salah satu pemimpin Taliban yang paling berpengaruh. Oleh penduduk lokal, Ahmad juga dikenal dengan nama Muhammad Ismail.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

AS kemudian mengirimkan tim Navy SEAL yang beranggotakan empat orang di bawah komando Letnan Michael Murphy. Mereka mengawasi pergerakan musuh dari ketinggian 10 ribu kaki, yang diduga menjadi lokasi persembunyian Ahmad Shah. Tempat tersebut berada di Asadabad, Provinsi Kumar, Afghanistan.Sayang, pergerakan yang dilakukan secara rahasia ini tak sengaja terungkap. Salah satu penduduk lokal melihat keempatnya sedang berjalan menuju lokasi yang ditentukan, lantas melaporkannya kepada anggota Taliban terdekat. Secara diam-diam, milisi yang dijuluki 'Macan Gunung' telah mengatur penyergapan.Alhasil, di tengah perjalanan keempatnya sudah dihujani tembakan peluru. Empat orang Navy SEAL dikurung 50 milisi anti-koalisi, membuatnya kalah jumlah. Namun, seluruh pasukan elite AS tersebut mampu bertahan karena berada di lokasi lebih tinggi, sehingga dapat melihat seluruh pergerakan musuh.'Macan Gunung', milisi yang mereka hadapi ternyata cukup teratur dalam membangun serangan. Mereka menembaki posisi anggota SEAL dari tiga penjuru serta menutup jalur pelarian. Meski begitu, dengan penuh luka, keempat pasukan elite ini berhasil membuka jalan dan turun perlahan 20 sampai 30 kaki.

Upaya meminta bantuan sempat tersendat, salah satu penembak mereka Danny Dietz, jempolnya tertembak peluru hingga terputus. Saat itu Dietz berupaya menghubungi markas untuk agar dijemput sekaligus meminta bantuan, namun posisinya terbuka bagi peluru musuh.Kondisi itu memaksa Murphy untuk menggantikannya. Tanpa memikirkan keselamatannya, dia menghubungi markas di lokasi yang sama saat Dietz mengalami luka tembak.Berbeda dengan rekannya, Murphy berhasil melakukan kontak dan meminta bantuan. Setelah menutup gagang telepon, dia kembali ke posisinya dan menembaki musuh yang terus mendekat.Militer AS lantas mengirimkan helikopter MH-47 Chinook. Heli ini membawa delapan pasukan tambahan dari SEAL serta delapan anggota Linud Army Night Stalkers. Tanpa diduga, serangan roket Taliban mengenai badan helikopter dan terbakar. 16 Prajurit yang berada di dalamnya terbunuh.Sementara itu, Murphy dan ketiga anak buahnya sempat bertahan selama dua jam. Satu per satu terbunuh, hanya prajurit medis Marcus Luttrell yang selamat. Meski begitu, mereka berhasil membunuh 35 milisi Taliban.Luka berat yang dialami akibat tembakan roket membuat Luttrell tak bisa banyak bergerak. Namun, dia terus berjuang meski hanya seorang diri untuk mundur perlahan dari medan pertempuran.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dengan susah payah, Luttrell merangkak perlahan dari bibir jurang. Tubuhnya mengalami dehidrasi, kakinya tertembus peluru, serta terkena pecahan peluru di kedua kakinya, ditambah lagi ketiga tulangnya retak akibat terjatuh saat mencari perlindungan.Militer AS memang mengirimkan heli penyelamat untuk membawanya pergi. Namun, kondisinya yang sudah teramat payah membuatnya sulit memberikan sinyal.Agar tidak tertangkap musuh, dia harus berjalan sejauh tujuh mil disertai kejaran musuh di belakangnya. Beruntung, dia bertemu dengan salah satu penduduk lokal, ia dipapah hingga ke desa terdekat dan dirawat selama tiga hari.Meski begitu, bukan berarti Luttrell sudah aman. Taliban yang mengetahui keberadaannya terus mendatangi desa tersebut dan meminta penduduk untuk menyerahkan dirinya, namun ditolak. Sekali lagi, dia selamat.Seperti yang dikutip dari navy.mil, kejadian tersebut merupakan yang terburuk selama Operasi di Afghanistan dilaksanakan, bahkan terburuk sejak Perang Dunia Kedua. Di mana, 19 prajurit elite terbunuh.Kisah Operasi Red Wings ini kemudian diangkat menjadi Film dengan judul Lone Survivor.

Rekomendasi