Gempa Bantul tahun 2006 meluluhlantakan hampir sebagian besar rumah di Bantul. Termasuk juga rumah Yuniati, buruh cuci di Ketandan Kulon, Imogiri, Bantul. Pemerintah pun langsung cepat tanggap memberikan bantuan pada warga yang rumahnya hancur.
Saat pemerintah akan memberikan bantuan untuk membangun kembali rumahnya yang rata dengan tanah, dia justru meminta dalam bentuk uang saja.
"Saya minta uang, soal pas itu mau masuk kuliah anak saya yang nomor dua, sisanya buat bayar utang. Anak-anak saya ungsikan ke tempat saudara, saya tidur di tenda karena rumah sudah roboh," katanya pada mereka.com, Kamis (10/9).
Untuk mendapat uang lebih banyak untuk pendidikan anaknya, dia mengumpulkan batu-bata bekas sisa bangunan runtuh lalu dijual. Dia tidak sendiri, suaminya dan kedua anaknya pun turut membantu mengumpulkan batu bata.
"Waktu itu dari jualan batu bata dapat Rp 3 jutaan. Itu untuk biaya pendidikan juga dan untuk kebutuhan sehari-hari," tambahnya.
Salah seorang turis Belanda yang melihat mereka bekerja mengumpulkan batu bata untuk biaya pendidikan pun terkesan dengan kisah mereka. Turis yang bernama Michel Hol tersebut kemudian memberikan bantuan pendidikan untuk kedua anaknya sebesar Rp 600ribu setiap bulan.
"Bulenya itu guru di Belanda. Dia motret kami waktu ngumpulin batu bata, terus penasaran. Lalu cerita-cerita dan memberikan bantuan itu. Jujur saja uang itu kami pakai untuk bayar hutang," urainya.
Yuniati dan keluarganya baru bisa kembali tinggal di rumah setelah beberapa bulan gempa. Mereka mendapatkan bantuan dari Gereja yang tak jauh dari rumah mereka untuk membangun kembali rumah mereka.
"Kami dapat bantuan lagi, terus kami minta dibangunkan kembali rumah. Jadi akhirnya biaya kuliah ada, rumah juga bisa dibangun lagi," tandasnya.