Sejumlah calon pimpinan dicecar soal netralitas jika kelak duduk di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka pun berjanji tidak akan bisa diintervensi oleh siapa pun.Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji berjanji tidak akan menganak-emaskan siapa pun jika ia terpilih menjadi pimpinan KPK. Hal ini ditegaskan Hendardji ketika menjawab pertanyaan anggota pansel KPK Eny Nurbaningsih tentang adanya kemungkinan jika pimpinan TNI bisa menekan dia dalam kasus apa pun."Ada 4 peradilan. Kami terus bangun komunikasi dengan TNI. TNI itu juga bekas anak buah saya, pasti akan dengar baik. Kami tidak akan menganakemaskan siapa pun," ujar Hendardji dalam sesi tanya jawab dengan 9 anggota pansel KPK, Selasa (25/8).Meski erat dengan gaya kepemimpinan komando militer, Dia juga berjanji akan senantiasa menjalin kerja sama dengan komisioner lainnya di KPK, baik dari kalangan sipil maupun polisi nanti. Kata dia, yang pasti gaya militer tidak akan masuk dalam cara kerja KPK nantinya."Saya pensiun lima setengah tahun. Status saya adalah sipil. Tidak ada jalur komando. Saya sudah terbiasa dengan itu (hidup sipil) selama 5 tahun lalu. Yang jelas akan ada strategi penguatan lembaga yaitu penguatan internal. Rekan komisioner adalah rekan kerja. Proses dalam KPK berjalan sebagaimana mestinya. Aturan mekanisme KPK akan kami jalani. Jalur dari luar tidak kami pakai," pungkas dia.Calon dari institusi Polri, Brigjen Basaria Panjaitan ditanya jika kelak kasus korupsi melibatkan personel atau petinggi Polri. Kemudian dia ditanya apa yang akan dilakukan bila bekas koleganya tersandung kasus dugaan korupsi?"Untuk apa takut kalau perbuatan saya digaji pemerintah, kalau saya menyakinkan ibu, ibu pasti tidak percaya," jawab Basaria saat seleksi Capim KPK di Kementerian Sekretaris Negara, Jakarta, Senin (24/8).
Advertisement
Tak hanya itu, anggota Pansel Capim KPK, Harkristuti Harkrisnowo, memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan Kepolisian. "Kalau ada tersangka korupsi dari polisi apakah akan dibelain?," tanya Tuti kepada Basaria."Tidak bu, saya yakin," jawab Basaria.Basaria juga dicecar hal yang sama oleh anggota Pansel KPK lainnya, Betti S Alisjahbana. Betti mempertanyakan sikap Basaria jika ada petinggi Polri yang menjadi tersangka, salah satu orang yang berjasa menaikkan pangkatnya."Di polisi kenaikan pangkat tidak perorangan, saya tidak tahu siapa yang menaikkan pangkat saya. Kalau 2 alat bukti ditemukan tidak perlu melihat siapa orangnya dari mana," jawab Basaria.Mantan Kapolda Papua Irjen Pol Yotje Mende juga berjanji akan mengusut tuntas setiap kasus korupsi di Indonesia tanpa pandang bulu. "Dibesarkan polisi, bapak polisi, dan putra polisi, istri dan mertua juga polisi. Alam pikir bapak telah dibentuk polisi, apa yang terjadi kalau jadi pimpinan KPK bila ada kasus libatkan polri?" tantang anggota pansel KPK Natalia Subagyo."Komitmen kami terkait pemberantasan korupsi sudah sejak dulu dibawa bahwa tegakkan hukum harus dilaksanakan secara konsekuen dan tak pandang bulu. Pelanggaran sekecil apapun tetap kami proses. Saat jadi anggota, kasat reserse, kebijakan di level tertentu kami serahkan pada pimpinan," jawab Yotje.Tak berhenti di situ, Natalia terus mengorek komitmen Yotje. Pertanyaan yang tak diduga mantan Kapolda Riau ini adalah apakah ia bersedia mengambil alih masalah korupsi yang tak mangkrak ditangani kepolisian."Ketika jadi pimpinan KPK, kalau masih ada masalah kepolisian dan yang mangkrak, berani ambil alih?" desak Natalia."Saya berani tapi tetap beretika. Lakukan pendekatan dengan baik. Bisa dilakukan," jawab Yotje pelan.