Muhammadiyah nilai perbedaan dan keberagaman sebagai sunnatullah

Muhammadiyah mencegah semakin meluasnya konflik antara kelompok Sunni-Syiah di Indonesia.

Salviah Ika Padmasari
Oleh Salviah Ika Padmasari - Reporter
Muhammadiyah nilai perbedaan dan keberagaman sebagai sunnatullah
Pemilihan 13 Pimpinan Pusat Muhammadiyah. ©2015 Merdeka.com

Di tengah umat Islam terdapat kelompok yang suka menghakimi, menanamkan kebencian dan melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok lain dengan tuduhan sesat, kafir, liberal dan tuduhan lainnya. Kecenderungan takfiri atau mengkafirkan orang lain, bertentangan dengan watak Islam yang menekankan kasih sayang, kesantunan, tawasuth dan toleransi.Sikap mudah mengkafirkan pihak lain disebabkan oleh banyak faktor antara lain; cara pandang keagamaan yang sempit, fanatisme dan keangkuhan dalam beragama, miskin wawasan, kurangnya interaksi keagamaan, pendidikan agama yang ekslusif, politisasi agama serta pengaruh konflik politik dan keagamaan dari luar negeri terutama yang terjadi di Timur Tengah.Melihat fenomena ini, bagi Muhammadiyah sebagaimana dituliskan dalam lembar hasil keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 yang disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah 2015-2020, Haedar Nashir pada pembacaan keputusan muktamar, Muhammadiyah memandang berbagai perbedaan dan keragaman sebagai Sunnatullah.Masih dalam keputusan muktamar, Muhammadiyah mencegah semakin meluasnya konflik antara kelompok Sunni-Syiah di Indonesia, Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk mengadakan dialog intra umat Islam serta mengembangkan pemahaman tentang perbedaan keagamaannya dengan menyusun fiqh khilafiyah dan sosialisasinya untuk meminimalisir konflik horizontal.

Rekomendasi