Kasus tewasnya Angeline (8) yang ditemukan sudah terkubur di kandang ayam di kompleks rumah milik orangtua angkat bernama Margriet Christina Megawe di rumah nomor 26 Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali, menjadi perhatian publik.Dalam perkembangannya, kasus diduga penganiayaan, pemerkosaan hingga pembunuhan ini semakin meluas. Diduga motif utamanya adalah perebutan harta waris. Hingga saat ini polisi masih terus mendalami semua kemungkinan.Polisi menetapkan Agustinus Tai (25), satpam rumah sebagai tersangka pembunuhan Angeline. Dalam pemeriksaan, Agus mencatut orang ketiga bernama AA yang diduga ikut terlibat dalam pembunuhan. Sedangkan Margriet jadi tersangka penelantaran anak.Selama menjalani pemeriksaan, Margriet sudah dua kali ganti pengacara, yang terakhir dia memercayakan pengacara kondang Hotma Sitompul sebagai pembelanya.Lantas bagaimana upaya polisi membongkar kasus pembunuhan ini? Berikut ulasan merdeka.com:
Advertisement
Pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi kasus pembunuhan Angeline; Agus, Margiet dan AA ternyata tidak mudah. Polisi dibuat kewalahan, bahkan jengkel. Kewalahan polisi itu karena keterangan ketiganya tidak konsisten. Penyataan mereka selalu berubah-ubah setiap kali dilakukan pemeriksaan.Akhirnya, polisi menggunakan perangkat deteksi kebohongan (lie detector) untuk memeriksa mereka. Menurut Kapolda Bali, Irjen Pol Ronny F Sompie, pemeriksaan dengan perangkat deteksi kebohongan guna mengetahui apakah Agus dan Margriet jujur atau tidak saat memberikan keterangan.Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Hery Wiyanto mengatakan, hasil dari lie detector terhadap AA ada beberapa jawaban yang mengindikasikan ke arah kebohongan. Namun, Hery tidak mempertegas apakah berbohong atau tidak tau."Hasilnya ada indikasi bahwa AA saat dites dengan lie detector dia berbohong. Ada beberapa pertanyaan yang jawabannya itu bohong. Kebohongan terlihat saat dirinya menjawab tidak tahu," terangnya di Mapolda Bali.Dia menambahkan, keterangan AA yang tidak jujur pihaknya akan lebih intensif melakukan penyidikan. "Indikasi adanya kebohongan ini, dari sana lah kami akan menyelidiki lebih lanjut lagi," katanya.Sementara itu, berdasarkan pemeriksaan Agus dengan lie detector, ternyata dia juga bohong. Kebohongan itu mengenai uang Rp 2 miliar yang disebut oleh dia sebagai imbalan membunuh Angeline. "Ternyata saat dikonfrontir, Agus hanya main-main," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Charliyan.
Advertisement
Tim penyidik dari Polda Bali mendatangkan kriminolog Prof Ronny Rahman Nitibaskara untuk menguji keterangan Agus dan Margriet. Ditemui saat tiba di Mapolda Bali, Prof Rony mengaku ditunjuk untuk menguji keterangan dari tersangka dan saksi-saksi."Diperiksa dengan lie detector sudah. Hanya sekadar mencocokkan saja keterangannya," aku Ronny di Mapolda Bali, Kamis (18/6).Sementara Kapolda Bali, Inspektur Jenderal Ronny F Sompie menuturkan, bahwa guru besar Universitas Indonesia itu memiliki keilmuan yang dibutuhkan oleh Polda Bali."Kita membutuhkan keahlian beliau sebagai orang berkompeten untuk mengungkap bagaimana kebenaran keterangan para tersangka," kata Kapolda Bali, Kamis (18/6).
Advertisement
Sejak ditemukannya jenazah Angeline di rumah dalam kondisi tewas mengenaskan, sudah lima kali tim Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polda Bali lakukan olah TKP. Terbaru, tim Mabes Polri langsung turun tangan untuk penyisiran di rumah nomor 26 Jalan Sedap Malam milik Margriet, Jumat (19/6).Olah TKP yang ke enam kali ini dipimpin Kepala Pusat Inafis Mabes Polri, Brigadir Jenderal Bekti Suhartono. Kehadiran jenderal bintang satu Polri ini di lokasi untuk melakukan penyidikan lebih mendalam menyisir setiap jengkal tanah di lokasi.Menurut Bekti, timnya turut serta membantu penyidik Polda Bali menemukan barang bukti di rumah Angeline."Kita ingin membantu melakukan olah TKP untuk menemukan bukti-bukti yang akurat dan ilmiah," kata Bekti, Jumat (19/6) di lokasi jalan Sedap Malam, Denpasar.Dia menjelaskan, pada olah TKP kali ini dibawa alat canggih bernama Mobile Automatic Multy Boimetric Identification System (Mambis). Katanya, Alat ini hanya dimiliki oleh Amerika dan Indonesia.Keunggulan alat ini, kata Bekti, mampu membaca sidik jari dalam jumlah yang banyak. Alat ini juga mampu mengidentifikasi sidik jari dengan cepat dalam waktu yang singkat hanya dengan menempelkan jari pada finger print.