Bisnis PSK pijat plus di Bali dikendalikan dari Lapas

Harga para wanita ditentukan oleh IVN yang mendekam di Lapas Kerobokan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bisnis PSK pijat plus di Bali dikendalikan dari Lapas
Mucikari di Bali. ©2015 merdeka.com/gede nadi jaya

Pernyataan mengejutkan dilontarkan mucikari asal Sumatera, Lely Novida alias Memey (34) di Bali. Pengelola bisnis panti pijat ini mengaku bahwa dirinya bukan penentu harga harga wanita pemberi layanan pijat sekaligus seks bagi para pelanggan. Ada sosok lain yang disebutnya sebagai Bos. Memey mengatakan, bos tersebut saat ini masih mendekam di Lapas Kerobokan Kelas II A Denpasar. Napi narkoba berinisial IVN (30) inilah yang disebut-sebut Memey sebagai bos pengendali bisnis esek-esek tersebut. "Ternyata mucikari yang sesungguhnya ada di dalam lapas. Ini hebat, dari dalam lapas bisa mengendalikan jaringan prostitusi online," terang Kasat Reskrim Polresta Denpasar, Kompol I Nengah Sadiartha, Selasa (19/5).Dibenarkan Sadiartha, bahwa rata-rata wanita yang ditawarkan Memey bertarif antara Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta. Harga tersebut ditentukan langsung oleh IVN yang mendekam di Lapas Kerobokan. Namun, Memey yang memegang data para wanita tersebut."Jadi setiap ada transaksi, bosnya yang di Lapas tetap mengetahui. Kalau harga cocok dan pas, bosnya tidak komentar. Terkadang bosnya juga bisa mengendalikan dalam transaksi dan memastikan bahwa jaringan pemasaran lewat BBM, SMS dan FB," ungkapnya.Sementara itu, Kalapas Kerobokan Kelas II A, Sudjonggo dihubungi pagi ini (19/5) mengaku kaget dan belum tahu apabila di lingkungan binaannya ada sosok yang berprofesi sebagai mucikari dan masih mengendalikan bisnisnya. Bahkan bila itu dibuktikan, bukan tidak mungkin ada anak buah IVN berprofesi sebagai PSK yang juga berada di dalam lapas.

Rekomendasi